Cerita Rakyat
Ritual adat Muang Jong
Suku Sawang
Disuatu desa yang sangat dekat dengan pesisir pantai, hiduplah sekelompok masyarakat yang dikenal dengan nama Suku Sawang. Suku sawang merupakan suku laut yang ada di daerah Belitung, Matapencaharian masyarakat sekitar adalah sebagai nelayan. Daerah tersebut dipimpin oleh ketua adat bernama kik Daud, beliau adalah seorang kepala adat suku Sawang. Beliau juga memiliki cucu bernama Shandy, ia seorang laki-laki yang bertubuh besar tinggi, dengan kulit sawo matang dengan tatapan mata yang sangat tajam. Matahari sangat panas, namun tidak menghalangi Shandy untuk pergi kelaut. Dengan jala dipundaknya ia berangkat menuju laut, pantai adalah sahabatnya setiap hari Ia selalu bertegur sapa dengan pantai. Saat hendak menaiki perahu, terdengar suara seorang wanita yang memanggil Shandy dari belakang. Suaranya sangat terdengar jelas dan lantang, maklum saja suara masyarakat disekitar pantai sangat bergema dan kuat. Saat Shandy menoleh kebelakang ternyata Ibunya memanggil. Beliau mengantarkan sangu (Bekal) yang lupa dibawa oleh Shandy.
Shandy langsung menghampiri ibunya, Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada ibunya. Karena jika dipikir bagaimana Ia bisa makan saat ditengah lautan.
Mak, terimakasih sudah mengantarkan sangu (Bekal) untuk aku, dak tau lah ape jadi e kalau dak deh sangu (Bekal) bisa jadi kelaparan ditengah laut, ungkap Shandy kepada Ibunya.
“Aoklah Shan, itulah jadi Mak antar sangu (bekal) untuk kau. Gitulah kalau orang tue dengan anak. Sekarang kau pegilah, takut kelak hari lah petang(sore), kata Ibu Shandy.
aoklah mak, kalau gitu Shandy pegi dulu.(sembari bersalaman dengan Ibunya).
Shandy langsung menaiki perahunya dengan tiga orang temannya. Dengan keahlian dan kehebatannya ia terlihat sangat ahli dalam mengayu perahu. Tidak ada rasa takut didalam benaknya, ia terus mengayu perahu dan melihat-lihat pemandangan mangrove disekelilingnya. Sesampainya ditempat Shandy langsung berdiri dan melemparkan jala ke laut. Sembari menunggu Ia dan teman-temannya menikmati sangu (bekal) mereka masing-masing.
Hari semakin gelap Shandy dan teman-temannya langsung menarik jala, benar saja banyak sekali ikan-ikan yang berukuran sedang terperangkap dengan jala mereka. Mereka mengumpulkan ikan-ikan yang terperangkap dijala dan menaruhnya di ember. Setalah itu mereka melemparkan jala lagi kelautan. Sembari menunggu mereka mengambil pancing, dingin malam tak membuat dia dan teman-temannya putus asa, maklum dia sudah kebal dengan gelap dan dinginnya malam. Sembari duduk dengan meletakkan kakinya kelautan Shandy melemparkan pancingan khusus untuk mencari cumi kelautan. Konon menurut masyarakat yang mengerti dengan lautan, berpendapat bahwa jika posisi bulan tidak terang sangat baik untuk mencari hewan dilautan. Benar saja selang beberapa menit pancingannya disantap oleh cumi besar yang biasanya warga setempat menamainya dengan sebutan Sutong.
Shandy amat senang karena pancingannya disantap oleh mangsa. Hari semakin larut dan mereka bergegas untuk pulang ke daratan. Sesampainya di dermaga dan ia menepi mereka langsung pulang kerumah masing-masing. Sesampainya di rumah ia mengetuk pintu dan memanggil ibunya. Sontak saja ibunya sedikit terkejut, namun ibunya tahu bahwa itu Shandy. Beliau langsung membuka pintu rumahnya.
Mak liat la malam ne (nih) aku beruntong (beruntung) benar, banyak dapat ikan e, ucap shandy kepada ibu dengan tawa.
Mata ibunya masih merah karena terbangun dari tidurnya nampak sangat senang.
Syukurlah San, dapat isok (besok) untuk laok(lauk) kite dan mak jual sebagian ke pasar Gantung, sekarang kau mandi mak cium-cium bau badan kau ne bau bakau,sahut ibunya(sembari tertawa).
Biarpun bau bakau mak, tapi aku ade (ada) hasil dari laut, sahut Shandy sembari tertawa dan berjalan menuju kamar mandi.
Tampak matahari mulai menampakkan tubuhnya, masyarakat sekitar beraktivitas dengan dengan kegiatannya masing-masing. Hal serupa juga dilakukan ibu Shandy, beliau menuju kearah pasar Gantung. Setiap perjalanannya ada saja orang yang menyapa, maklum masyarakat sekitar sangat erat dengan kekeluargaan dan tegur sapa. hasil tangkapan Shandy terjual laris di pasar dan sebagiannya di masak oleh ibu Shandy. Ibu Shandy memasak Gangan merupakan makanan khas masyarakat Belitung, yang bahan utamanya dari kunyit. Duduk tersandar diteras rumah dengan makanan ditangannya, Shandy nampak lahap memakannya. Setelah ia menyelesaikan makanannya ia langsung pergi lagi ke laut bersama teman-temannya. Lautan merupakan candu baginya, ia sangat bersahabat kental dengan lautan.
Tiba-tiba ada tetangga sebelah rumahnya yang menyapa dirinya. Tetangganya memberitahukan bahwa malam ini akan diadakannya rapat dibalai warga, rapat tersebut membahas tentang selamat laut atau dikenal dengan istilah Muang Jong. Setiap tahunnya masyarakat selalu mengadakan selamat laut, untuk mengucapkan rasa syukur kepada nenek moyang mereka. Banyak sekali kegiatan dan ritual yang masih terjadi pada masyarakat suku Sawang.
Hari selir berganti, malam puncak pelaksanaan untuk selamat lautpun segera akan dilakukan. Masyarakat sangat berantusias dalam kegiatan. Siang itu, nampak hujan lebat masyarakat amat terhalang dengan apa yang akan mereka lakukan. Namun didalam rumah para ibu-ibu terus melakukan pembuatan janur dari kelapa yang digunakan untuk ritual. Setelah beberapa saat hujan redah masyarakat melanjutkan kegiatan. Sebagian warga pergi kehutan mencari bambu dan kayu untuk membuat perahu. Dengan alat yang seadanya masyarakat langsung berangkat menuju hutan. Sesampainya dihutan masyarakat berbondong-bondong mencari bambu dan kayu. Mereka sangat bersuka cita, saat ingin menebang pohon tanpa disadari begitu banyak pasukan semut Kak sebutan masyakarat Belitung untuk semut rangrang. Salah satu warga digigit oleh semut Kak (semut Rangrang) dan terpeleset. Maklum saja, hujan baru saja redah dan cuaca tanah sangatlah licin. Nasib baik masih menyertai dan tidak terjadi apa-apa, kisaran beberapa menit tiba-tiba Shandy terkena duri Nangak (nangak merupakan tanaman berduri seperti tumbuhan salak yang tumbuh dihutan). Kakinya terluka dan duri tertancap didalam kulit kaki Shandy.
Kepunan (istilah untuk pantangan mengabaikan tawaran makanan/minuman) ape la kau nih Shandy jadi kayak gini, ujar temannya sembari mengeluarkan duri dalam kaki Shandy.
Tadi sebelum pergi kehutan aku ditawari kopi dari ayah, tapi aku tidak mau, sahut Shandy.
Itulah kalau orang tawarin minuman tuh minumlah setidaknya sedikit saja, ujar temannya Shandy. Setelah duri nangak keluar dari kaki Shandy, merekapun langsung melanjutkan pencaharian. Ternyata rombongan bapak-bapak telah selesai mengambil bambu dan kayu. Meraka langsung bergegas kembali rumah mereka. Pembuatan perahu dilakukan dihalaman setiap rumah warga, maklum suku sawang hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga dan rumah mereka juga menempel antara rumah satu dengan rumah lainnya. Saat sesampainya dihalaman rumah, masyarakat langsung melakukan pembuatan perahu yang dihiasi dengan berbagai peralatan. Yang paling penting setiap rumah harus memberikan sesajen untuk nanti perahu diarungkan dilautan, setelah selesai membuat dan menghias perahu masyarakat meletakkan apasaja yang mereka berikan untuk leluhur mereka, seperti makanan, ayam hidup, buah, peralatan dapur beras dan lain-lain. Masyarakat meletakkan mengikat setiap barang yang mereka berikan untuk leluhur. Hal itu merupakan simbol rasa syukur mereka terhadap leluhur mereka. Setelah itu melakukan ritual doa untuk perahu tersebut yang dilakukan oleh kepala adat, setelah memanjatka doa perahu diletakkan pada bangunan yang tinggi.
Keesokan harinya masyarakat masih berlanjut membuat peralatan untuk ritual dan mencari bunga padi, dan salah satu orang membuat ancak (tempat yang terbuat dari bambu) bentuknya seperti atap rumah yang dihiasi dengan daun kelapa. Tidak ketinggalam mansyarakat juga berbondong mendirikan dan menancapkan Jitun (sejenis pohon pinang). Menuju puncaknya masyarakat menyiapkan peralatan seperti gendang, gong dan kemenyan untuk ritual. Masyarakat bekerjasama membersihkan sampah-sampah disekitar. Hari semakin gelap, masyarakat memulai ritual adat sebagai pembuka dilakukan doa, yang diwakili oleh beberapa orang yang duduk bersebelah dengan kepala adat. Tidak semuanya hanya beberapa orang saja, itupun orang yang memang mengerti adat istiadat suku sawang. Ritual dibuka dengan nyanyian yang memang diperuntukkan memanggil leluhur mereka, aroma-aroma kemenyan sangat kuat. Setelah kepala adat dirasuki oleh leluhur salah satu orang membuka salam dan mengucapkan rasa syukur kepada leluhur. Kepala kepala adat harus ditutupi dengan kain putih setelah berinteraksi dengan dengan leluhur, sebagai tanda terimanya oleh leluhur kepala adat yang sudah tidak muda lagi langsung berdiri berjalan kedepan dan berlenggak-lenggok menggerakkan suatu gerakan yang diiringi dengan lantunan gendang dengan amat gagah dan berani. Salah satu orang meniupkan asap kemenyan kearah kepala adat sembari bernyanyi.
Setalah itu dilanjutkan dengan gerakan muda-mudinya, yang terdiri dari tujuh laki-laki yang berikatkan kain putih di kepala, posisi mata tertutup dan kain batik yang diikat dipinggang. Mereka melakukan gerak-gerakan seperti orang kesurupan. Pastinya harus ada penjaga disekitar mereka, konon yang menggerakkan badan mereka adalah leluhur. Gerakan tersebut hanya diperuntukkan bagi keturunan suku sawang. Gerakan terus dilakukan sampai satu persatu orang pingsan, cara membangunkannya memiliki cara dan tidak sembarangan, membangunkan orang yang pingsan memiliki lagu tersendiri setiap tarian atau gerakan beda cara membangunkannya. Uniknya dalam proses membangunkan ada istilah tidak mau dari leluhur. Sehingga jika musik satu tidak mau maka diganti dengan musik lainnya, misalnya membangunkan dengan cara gendang Raje dan Nek Unai. Itulah sebutan untuk musik yang digunakan dan setiap pukulan gendang sangat berbeda. Setalah mereka sadar kembali, selanjutnya mereka akan dipukul-pukul dengan bunga padi.
Kegiatan masih berlanjut selanjutnya ialah kegiatan Junjung Ancak, yang mana ini dilakukan perorangan dengan gerakan-gerakan. Setiap orang harus menggerakkan dan membawa ancak yang berbentuk seperti atap rumah. Bergerak maju mundur berjalan kedepan dan belakang sembari menundukkan dan menenggakkan kepala. Orang yang melakukan Junjung Ancak sangat laju menggerakkan badannya. Melakukan Junjung Ancak harus dilakukan sebanyak tujuh kali, dengan orang yang berbeda. Konon yang terakhir saat bergerak itu, bukan dia menggerakkan badannya tetapi raja laut. Konon orang yang melakukan Junjung Ancak ini Ruhnya berada dilautan dan orang yang melakukan Junjung Ancak ini berada berjalan dilautan bertemu siapa saja dilautan. Mereka bertegur sapa dengan penduduk lautan dan merasa kebebasan dilautan. Bahkan para nelayan, hanya saja para nelayan tidak bisa melihat keberadaan mereka. Namun, orang yang melakukan Junjung Ancak bisa melihat para nelayan. Setiap doa selalu diberikan agar orang-orang yang berada dilautan selalu diberikan keselamatan dan perlindungan oleh leluhur. Oleh sebab itu, orang yang melakukan Junjung Ancak harus menunggu sampai dia pingsan atau tidak sadarkan diri.
Gerakan ketujuh orang yang melakukan Junjung Ancak gerakannya sangat liar, dan berbeda. Orang ketujuh ini ingin bergerak-gerak diatas pundak masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat harus menyiapkan badan mereka untuk diinjak oleh orang ketujuh semabari bergerak-gerak. Setelah semuanya tak sadarkan diri kembali dengan ritual membangunkan. Setelah setiap orang tersadar selanjutnya kegiatan naik Jitun ( sejenis pohon pinang) kegiatan naik Jitun ini harus dilakukan sendiri. konon katanya ada tujuh bidadari yang berkeliling mengitari Jitun tersebut. Dengan mata tertutup orang yang khusus naik Jitun amat lincah dan cepat saat menaiki Jitun. Dengan rombongan penari dibawanya mengelilingi setiap putaran Jitun. Bidadari-bidadari tersebut nampak bahagia dan menikmati lantunan musik yang dipersembahkan khusus untuk mereka. sang bidadari nampak membantu memegangi orang tersebut agar tidak terjatuh. Orang yang menaikki Jitun tersebut bergerak lincah dan berdiri dipuncak Jitun sembari memutar-mutarkan badannya. Dengan bantuan bidadari-bidadari tersebut tak nampak orang yang melakukan atraksi tersebut seperti terjatuh. Padahal ia memutarkan badannya tanpa alat bantu sedikitpun. Masyarakat bersemangat mengitari Jitun dan menyanyikan lagu yang khusus untuk naik Jitun. Setelah melakuakan atraksi barulah orang tersebut sadar dan dibantu oleh masyarakat yang lainnya.
Lantunan gendang terus berlanjut sampai pagi yaitu sampai ritual mengarungkan kapal kelautan. Walaupun tidak beristirahat masyarakat nampak asyik bergerak menikmati pukulan gendang yang dimainkan. Masyarakat menghargai dan menghormati, sampai-sampai mereka rela tidak mengistirahatkan mata mereka. Pagi masih berlanjut, dengan bola mata yang membengkak membuat masyarakat tetap menunjukan semangat mereka. Selanjutnya membawa Junjung Ancak kesetiap pekarangan rumah masyarakat suku sawang. Setiap rumah harus melemparkan beras-beras kearah Junjung Ancak. Junjung Ancak terus dilakukan sampai rumah terakhir dengan diiringi musik dan pukulan gendang. Beras tersebut merupakan makanan untuk leluhur dan leluhur sangat menikmati dan begitu lahap memakannya. Sampai-sampai ayam ternak wargapun tak berani untuk mengganggu atau mematoknya. Leluhur tanpa tersenyum bahagia melihat keturunannya tak melupakan mereka. Setelah melakukan Junjung Ancak yaitu melakukan pengarakkan Perahu mengelilingi pasar Gantung dan menuju Pantai Mudong. Sang leluhur tampak bahagia menunggangi perahu tersebut dan dibawa berkeliling kampung sebelum berpamitan kelautan. Masyarakat nampak berbahagia bercanda gurau dan berteriak melepaskan segala penat.
Setelah sesampainya dilautan cuaca nampak cerah langit biru terang dan awan menggumpal putih, ritual masing dilakukan. Membangun kebahagian tersebut masyarakat melakukan gerakan memutar perahu dengan musik yang membangkitkan semangat untuk bergerak. Leluhur tampak bahagia dan tertawa terbahak-bahak menyaksikan keturunannya. Selanjutnya adalah interaksi antara kepala adat dan leluhur berjalan ketepi pantai sembari menggerakkan badan dengan kepala yang ditutupi kain putih dan diiringi pukulan gendang. Dengan berlinang air mata kepala adat berinteraksi dengan leluhur dan mengucapkan atas segala rasa syukur yang telah diberikan. Masyarakat yang menyaksikanpun juga ikut menangis dan bersujud kearah lautan. Setelah itu, mengarungkan kapal kelautan masyarakat berbondong menghanyutkan kapal dan berjalan menuju kearah lautan sampai lautan setengah pinggang orang dewasa barulah kapal diarungkan. Pukulan gendang tak berhenti sampai kapal nampak jauh.
Selanjutnya masyarakat menuju ke daratan sesaat setelah sampai ditepi lautan mereka tampak berlari-lari sembari tertawa lepas dengan membawa air laut lalu disiramkan kepada orang. Ini memang sudah menjadi keharusan dan tidak boleh marah saat disiram dengan air. Itu merupakan tanda kebahagian masyarakat. Setelah mengarungkan kapal masyarakat langsung bergegas pulang. Masyarakat yang tidak tidurpun langsung melepas penat. Begitupun Shandy ia nampak sangat lelah sekali, ia langsung terbaring dirumahnya dan tertidur nampak pulas sekali. Dan ibunya nampak terus melakukan kegiatan, ibu Shandy membantu ayahnya membuat jala dibelakang rumahnya. Hari nampak begitu gelap, Ibunyapun langsung bergegas menggambil jemuran ikan asin dan kempalng yang Ia buat. Saat sedang mengambil ikan asin hujan tiba-tiba turun dengan begitu deras. Ia langsung berlari dan membawa ikan asin dan kemplangnya kedalam rumah pembuatan jala berlangsung di dalam rumah. Hari semakin malam Shandy yang nampak lelah belum juga beranjak dari tempat tidurnya ibunyapun langsung membangunkannya.
Malam itu kepala adat yaitu Kik Daud tampak gelisah dalam tidurnya, ternyata leluhur bertamu didalam mimpinya dan berkata sangat kecewa dan kapalpun dikembalikannya, leluhur sangat kecewa saat ia sampainya di istananya ternyata ada satu alat yang masyarakat lupa. Yaitu korek api, dalam mimpinya leluhur sangat kecewa dan mengembalikan kapal tersebut.
Bagaimana bisa ada satu benda yang terlupakan, seharusnya lebih hati-hati lagi dalam mempersiapkan sesuatu. Bagaimana kalian bisa masak jika tidak api !, ujar kemarahan leluhur didalam mimpi Kik Daud. Beliau terbangun dari tidurnya beliau langsung bergegas mencuci muka. Sembari menunggu pagi beliau mempersiapkan apa yang harus dilakukan, hari menjelang pagi beliau menyampaikan kepada setiap masyarakat suku sawang. Untuk kembali kepantai karena adanya penolakan dari leluhur karena ada benda yang belum terpenuhi dan kita harus kembali ketempat. Sesampainya pantai Mudong, tampak perahu yang berada ditepi pantai, beliau meletakkan korek api dikapal tersebut dan meminta maaf kepada leluhur dan permintaan maafnya diterima oleh leluhur.
Amanat dari cerita ini adalah Kita harus selalu bersyukur atas apa yang didapatkan dan selalu bekerja sama dalam melakukan segala hal. Karena sejatinya setiap manusia adalah mahkluk sosial yang membutuhkan satu dengan lainnya.
cerita ini sebenarnya adalah kepercayaan masyarakat sekitar khususnya masyarakat suku Sawang. Cerita diatas merupakan cerita yang dibuat oleh penulis untuk hiburan semata, namun perihal keberadaan masyarakat suku Sawang memang benar adanya. Masyarakat suku Sawang berada di kecamatan Gantung, Belitung Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar