Senin, 13 April 2020

asal usul kedatangan masyarakat Transbali Belitung

Asal Usul Masyarakat Transbali Belitung
Pada kesempatan yang baik ini, penulis akan menjelaskan kedatangan masyarakat Transbali Belitung, tepatnya di Kecamatan Sijuk. Ketertarikan penulis untuk mengetahui tapak tilas kedatangan masyarakat adalah beredarnya pemberitaan dan penjelasan dari mulut ke mulut yang simpang siur. Ada yang berpendapat bahwa masyarakat Bali adalah diambil dari cerita Bali yang terpotong yang membuat menjadi tidak masuk akal untuk dicerna secara logika. Pada kesempatan yang baik ini penulis menemui seorang narasumber yang bertempat tinggal di daerah Transbali, yaitu ibu Komang Sri seorang ibu rumah tangga. Diteras rumah yang bernuansa persis seperti masyarakat Bali pada umumnya dan nuansa pura disetiap sudut rumah, disitulah perbincangan penulis dengan narasumber. 
Transbali didaerah Belitung ini merupakan masyarakat yang aslinya dari daerah Bali asli, yang harus dipisahkan  dengan keluarganya kala itu demi sebuah program pemerintah. Lebih tepatnya program dimasa Presiden Soeharto, karena kepadatan masyarakat Bali kala itu yang sangat padat. Sehingga pemerintah membuat program untuk melakukan transmigrasi, tepatnya didaerah Belitung. Karena masyarakat Belitung untuk wilayahnya sangatlah luas masih asri dengan hutan dan penduduk tidak begitu padat. Kurang lebih dua ratus orang dipindahkan ke Belitung kala itu, tepatnya pada tahun 1990 menggunakan jalur laut. Tempatnya kala itu sudah disediakan oleh pemerintah, yaitu bersebelahan dengan Desa Pelepak Pute kecamatan Sijuk. selain itu, juga menurut hasil wawancara dengan narasumber bahwa tempat tinggal,  makanan ditanggung oleh pemerintah selama satu bulan dan kebutuhan pangan seperti beras, minyak goreng dan lain-lain ditanggung selama satu tahun oleh pemerintah. Namun, setelah itu baru masyarakat mencari makanan sendiri beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun sikap sosial dari masyarakat sekitar juga tergambarkan dari masyarakat asli Belitung yang biasa disebut dengan desa sebelah yang selalu membantu mereka memberikan janur untuk hari kebesaran mereka, makanan, sayuran dari kebun mereka untuk masyarakat sekitar.
Setelah  lama beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan membuat masyarakat betah hingga saat ini, keadaan yang tergambarkan masyarakat Transbali sama persis dengan yang ada di Bali. Sehingga bagi masyarakat yang melintasi Transbali seringkali berhenti sejenak untuk berfoto, karena nuansa yang ada di memang sama persis, keadaan rumah yang seperti pura dikelilingi dengan tempat persembayangan masyarakat Bali. Selain itu, masyarakat transbali juga sering melakukan ritual adat seperti Nyepi, Ngaben, Galungan, Kuningan,Pengarakan Ogoh-ogoh dan kegiatan lainnya. 
Setelah mengetahui tapak tilas kedatangan masyarakat Transbali ke Belitung, selanjutnya penulis sangat tertarik membahas mengenai Ritual  Ngaben. Ngaben merupak tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat Bali, Ngaben merupakan tradisi upacara pembakaran mayat. Ngaben merupakan ritual yang harus dilakukan oleh masyarakat Bali. Ketertatarikan penulis untuk membahas ngaben adalah pertanyaan penulis mengenai pembakaran mayat apakah memang mayat utuh yang dibakar?. Ternyata penjelasan mengenai ngaben ini adalah mayat yang telah dikuburkan dan diambil kembali tulang belulangnya untuk dimandikan dan disucikan setelah itu baru proses pembakaran yang dilakukan oleh Mewinten, yaitu orang yag telah disucikanuntuk melakukan ritual, tradisi ini dipercaya masyarakat Bali untuk mengantarkan ruh seseorang yang telah meninggal kepada leluhur mereka melalui pengarungan abu setelah dibakar ke sungai. Hanya saja Ngaben harus dilakukan secara massal, oleh sebab itu masyarakat Transbali  jika hanya ada beberapa orang meninggal belum bisa diabenkan kecuali bisa di Abenkan di Bali besar atau Bali induk (Denpasar). Dengan syarat masyarakat Transbali harus mengirimkan abu atau tanah orang yang meninggal ke Bali Induk baru bisa diabenkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar