Sikap Kekeluargaan Landak, Orang Utan dan Burung Nias
Oleh
Elis Anggrayani
Suatu hari disebuah hutan yang rindang nan hijau, terlihat keluarga Orang Utan yang sedang asyik bermain, mereka saling bergelantungan dan berlari-kesana kemari. Saat asyik bermain, datanglah seekor Landak, dengan begitu lincah Landak berlari menghampiri anak Orang Utan yang sedang bermain.
Hai, Orang Utan. Apakah Aku boleh bergabung dengan kalian, ucap Landak
Orang Utan saling mengarahkan pandangan mereka saling bertatapan satu dengan yang lain. Mereka sangat heran melihat tubuh Landak yang penuh duri.
Kenapa kalian melihatku seperti itu, ucap Landak.
Mendengar hal tersebut salah satu anak Orang Utan sangat bersimpati dengan Landak, sehingga ia mengajak Landak untuk bergabung dengannya. Sedangkan, anak Orang Utan lainnya pergi menjauhi mereka.
Baiklah Landak, Aku akan mengajakmu untuk bermain bersama, ucap Orang Utan.
Mendengar hal tersebut Landak sangat senang sekali, Ia girang dan bergembira. Karena selama ini, tidak ada hewan yang ingin bermain dengannya.
Ayo Orang utan, waktunya kita bermain, ajakan Landak.
Sabar dulu wahai Landak, kita tunggu sahabat kita satu lagi, ucap Orang Utan.
Landak nampak heran dan bertanya-tanya, siapa hewan yang sedang ditunggu.
Tiba-tiba datanglah Bunglon yang keluar dari semak-semak, dengan bahagia Bunglon berjalan sembari bernyanyi Ning..Nang..ning.. Nung, sya la la la, nyanyian Bunglon.
Wahai Bunglon lama sekali kamu, memangnya kamu habis dari mana. Kami sudah lama menunggumu disini, ucap Orang Utan dengan kesal.
maafkan Aku teman-teman, Aku baru saja dari sungai. Aku belajar bernyanyi dengan burung Nias, Suara burung Nias sangat merdu sekali. Ucap Bunglon.
Baiklah Bunglon, lain kali jangan seperti ini lagi. Datanglah untuk tetap waktu, kemarin kamu sendiri yang bilang tidak boleh terlambat, Tetapi mengapa kamu yang ingkar, Ucap Orang Utan.
Baiklah teman-teman Aku tidak akan mengulanginya lagi, Ucap Bunglon dengan murung.
Mendengar hal tersebut, membuat Landak sangat kasihan dengan Bunglon. Ia menenangkan Orang Utan yang sangat kesal dengan Bunglon, Landak menenangkan Orang Utan. Landak memberitahu bahwa kita tidak boleh menghakimi, karena setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan. Mendengar hal tersebut Orang Utan memaafkan Bunglon dan mereka memulai untuk bermain petak umpet.
Tapi kira-kira bagaimana cara menentukan, Siapa yang bersembunyi dan menjaga pohon, Tanya Landak.
Iya kamu benar Landak, bagaimana yah caranya, kira-kira kalian bunya ide? tanya Bunglon.
Kita menggunakan Daun saja, pada Daun terdapat dua pilihan ada yang telentang dan telingkup. Nanti kita pilih siapa yang ingin telentang dan ingin telingkup, setelah itu kita lemparkan daun keatas. Saat daun jatuh ke tanah, kita akan mengetahui siapa yang akan menjadi pemenang. Jumlah pilihan terbanyak itulah pemenangnya, Usul Orang Utan.
Ide yang bagus, kalau begitu sebaiknya kamu ambil daun dipohon itu, ucap Bunglon.
Orang Utan langsung berlari dan memanjat pohon, dengan cepat dan lincah iya mengambil daun. Landak sangat terpukau melihat Orang Utan yang begitu cepat saat memanjat pohon Waw, keren sekali Orang Utan, ucap Landak dengan kagum.
Dia memang hebat jika melompat dan bergelantungan dipohon, nanti kamu akan melihat kelebihanku saat kita bermain petak umpet, ucap Bunglon dengan membanggakan dirinya.
Kamu juga punya kelebihan wahai Bunglon, Aku penasaran kira-kira apa kelebihanmu?, Tanya Landak.
Nanti kamu akan tahu sendiri, memangnya kamu Landak. Kamu tidak memiliki kelebihan, namun kamu hanya memiliki kekurangan. Jalanmu lambat dan badanmu dipenuhi duri, sehingga tidak ada hewan yang mau berteman denganmu Ucap Bunglon.
Orang Utan langsung melompat kearah Bunglon dan Landak,
Mari kita mulai wahai sahabatku, sekarang kalian mau memilih daun ini dalam posisi telentang atau telingkup, tanya Orang Utan
Aku mau telingkup, jawab Bunglon
Kalau Aku telentang, ucap Landak
Baiklah, kalau Aku memilih telingkup. Sekarang kita lempar daunnya satu..dua.. tiga lempar.
Daun tersebut dilempar Oleh Orang Utan, berputar-putar dan melayang di udara daun tersebut membuat mereka gugup dan ketakutan. Sang Bunglon berteriak, telingkup..telingkup..telingkup, ucap Bunglon sembari melompat. Tak mau kalah, Landak juga teriak dan berharap daun terjatuh dalam posisi telentang. Landakpun berteriak dengan asyik dan bersemangat, telentang..telentang..telentang.
Saat daun jatuh ke tanah, Bunglon dan Orang Utan berteriak Bahagia. Sembari melompat riang, Yeeh, kami menang Landak jaga pohon, ucap Orang Utan.
Bunglon dan Orang Utan segera berlari mencari tempat persembunyian, sedangkan Landak harus menutup matanya sembari berhitung dari satu sampai sepuluh. Setelah selesai berhitung Landak mencari Bunglon dan Orang Utan, dengan sangat hati-hati Landak mencari Orang Utan dan Bunglon. Karena Landak sangat takut jika sahabatnya menyentuh pohon, karena jika sahabatnya bisa menyentuh pohon yang ia jaga. Maka ia akan menjaga lagi, langkah demi langkah Landak berjalan mencari sahabatnya, sesekali ia menoleh ke arah pohon yang ia jaga. Cuaca yang begitu panas membuat Landak sangat kewalahan mencari sahabatnya, sehingga keringat ditubuhnya bercucuran membasahi tubuhnya.
wahai sahabatku kalian dimana, teriak Landak.
sembari berjalan, Landak melihat ekor Orang Utan berada dibalik pohon Ulin dengan pelan Landak melangkah kearah Orang Utan, ia berjalan dengan penuh hati-hati. Jangan sampai langkahnya terdengar oleh Orang Utan. Namun, disisi lain Bunglon tertawa melihat tingkah Landak.
Ada-ada saja tingkah lakumu wahai Landak, padahal kamu telah melewatiku sebelumny. Namun, kamu tak melihatku karena aku telah berubah warna, ucap Bunglon sembari tertawa.
Landak terus berjalan, semakin dekat dan mendekat berada tepat dibelakang tubuh Orang Utan, Landak langsung mengejutkan Orang Utan, baaaaah, teriak Landak.
Orang Utan sangat terkejut, sontak ia teriak sembari berlari menuju pohon yang dijaga Landak, saat berlari begitu cepat Kaki Orang Utan tak sengaja terkena dengan duri Landak, iapun merengek kesakitan dan menangis oek.. oek.. oek ..oek, tangisan Orang Utan. Iapun langsung menghampiri ibunya yang sedang asyik mencari kutu,
Ibu Kaki ku berdarah kena duri Landak, ucap Orang Utan dengan isak tangis.
“Harusnya kamu jangan bermain dengan Landak, sekarang kamu rasakan sendirikan. Kakimu berdarah karena duri tubuhnya!, Ucap ibu Orang Utan.
Mendengar hal tersebut Landak sangat sedih, ia mendekati Orang Utan dan meminta maaf.
Wahai Orang Utan maafkan Aku, karena duri ditubuhku membuatmu jadi terluka, ucap Landak.
Orang Utan mengusap air matanya dan memaafkan Landak.
Sudahlah Landak sekarang kamu tidak usah bermain disini lagi, sekarang kamu pulang saja !, ucap Ibu Orang Utan dengan mata melotot.
Mendengar hal tersebut Bunglon langsung melompat kearah Landak,
Sudahlah ibu Orang Utan jangan memarahi Landak, dia juga tidak sengaja. ucap Bunglon.
Gara-gara duri ditubuhnya, membuat anakku terluka. Jika terjadi apa-apa dengan anakku awas ya kamu Landak !, Ucap ibu Orang Utan sembari meneriaki Landak.
Sudahlah, Bu jangan seperti itu. Malu didengar oleh hewan lain, lagipula masalahnya hanya sepela, tidak perlu dibesar-besarkan ucap anak Orang Utan sembari menenangkan Ibunya.
Biarkan saja, biar hewan lainnya tahu. Supaya lebih berhati-hati dengan Landak jika mereka tak mau celaka, ucap Ibu Orang Utan.
Landak sangat sedih mendengar hal tersebut dan ia tidak bisa melawan karena ia merasa apa yang dibicarakan ibu Orang Utan sangatlah benar, ia merasa tak pantas untuk dijadikan teman. Bunglon selalu membela Landak, karena ia tahu bahwa Landak tidak sengaja untuk melukai Orang Utan.
Wahai Ibu Landak harusnya engkau tidak boleh berkata seperti itu, suatu saat engkau akan dibantu oleh Landak. Memang bukan sekarang, tapi suatu saat engkau akan minta pertolongan dengan Landak. Ucap Bunglon.
Ibu Orang Utan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bunglon.
HaHaHaHa, Kamu berbicara apa barusan, sudahlah wahai Bunglon kamu jangan bercanda. Sungguh bercandaanmu itu lucu sekali, mana mungkin Aku meminta bantuan dengan Landak yang bertubuh kecil dan berduri, ucap Ibu Orang Utan.
“ sudahlah wahai Landak sebaiknya kita pergi, ucap Bunglon sembari membisiki Landak.
Dengan begitu sedih Landak hanya menganggukan kepalanya, Bunglon dan Landak berjalan pulang kerumah mereka yang satu arah.
Terimakasih wahai Bunglon, kamu telah membelaku. Aku kira kamu bukanlah hewan yang baik. Soalnya saat Aku bertemu denganmu tadi, kamu terlihat begitu sombong, ucap Landak.
hehehehe jangan melihat dari luarnya saja wahai Landak, tapi kau harus mengenalku lebih dalam untuk mengetahui sikapku. Tidak baik langsung begitu saja menilaiku, ucap Bunglon sembari memegang duri Landak.
Mengapa kamu memegang duriku, ucap Landak.
Aku hanya ingin memastikan apakah durimu memang tajam. Ternyata durimu tajam juga wahai Landak, ucap Bunglon.
iya, wahai Bunglon. Aku sangat sedih gara-gara duri ditubuhku semua hewan mejauhiku, mereka takut berteman denganku. Setiap Aku ingin mengajak mereka bermain pasti mereka selalu menolaknya, ucap Landak dengan begitu sedih.
Sudahlah Landak jangan kamu pikirkan tidak semua hewan seperti itu. Contohnya Aku masih mau berteman denganmu, kamu jangan sedih. Aku akan selalu mejadi sahabatmu, besok kamu ikut denganku kita bermain dengan Burung Nias. Kita belajar bernyanyi bersama, Ucap Bunglon.
Terimakasih wahai Bunglon, ucap Landak
Setelah asyiknya mereka berjalan dan berbincang-bincang, akhirnya Landak sampai kerumahnya. Namun, Bunglon nampak heran. Karena ia tak melihat ada rumah didekatnya, Bunglon kira Landak sedang bercanda. Karena disekelilingnya hanya pepohonan yang rindang dan terbuka, Bunglon berpikir bagaimana Landak bisa berteduh jika terjadi hujan.
mana rumahmu wahai Landak, Aku tak melihat ada rumah didekatku. Kamu bercanda yah, kamu sedang berusaha menghibur diri karena kamu tadi sangat sedih, ucap Bunglon.
Sabar wahai Bunglon, tapi ucapanmu itu ada benarnya wahai Bunglon. Kita sendirilah yang bisa menghibur diri kita sendiri, supaya tidak larut dalam kesedihan, ucap Landak sembari mengais daun-daun kering
Kamu mengapa mengais daun kering itu wahai Landak?, tanya Bunglon dengan heran.
Sebentar lagi kamu akan tahu wahai Bunglon, ucap Landak.
Bunglon menunggu dan melihat tingkah Landak yang asyik mengais daun kering, wahai Bunglon semangati Aku untuk mengais daun kering ini, ucap Landak sembari tertawa. Bunglon kembali heran dengan tingkah aneh Landak,
Bagaimana caranya Aku menyemangatimu wahai Landak, tanya Bunglon sembari menggaruk kepalanya.
Kamu cukup berhitung satu.. dua.. tiga.. kais..kais..kais, ucap Landak.
Mendengar ucapan Landak, Bunglon sangat tertarik untuk melakukannya. Bunglon berpikir hitung-hitung ia belajar latihan bernyanyi. Bunglon langsung melakukan perintah Landak sembari melompat dengan riang bahagia.
satu.. du..du..dua, ti.. ti.. tiga.. Kais..kais..kais, ucap Bunglon dengan suara yang kuat dan bergema.
Bunglon Kaget melihat sebuah lubang yang ditutupi ranting pepohonan sebagai pintu masuk yang tersusun rapi dibawah tanah.
Inilah rumahku wahai Bunglon, mari kita masuk, ucap Landak.
Bunglon dan Landakpun masuk kedalam rumah, Bunglon sangat takjub melihat isi dalam rumah Landak yang penuh dengan hiasan yang menepel pada dinding tanah. Tidak hanya itu rumah Landak juga bersih dan tertata rapi. Tempat tidur terbuat dari sisa-sisa ranting dan daun-daun kering yang dibuat setengah lingkaran bergelantungan dekat lampu.
rumahmu bagus, bersih dan rapi wahai Landak, ucap Bunglon.
terima kasih wahai Bunglon, Aku sangat suka membersihkan rumah dan itu sudah menjadi kebiasaanku, Ucap Landak.
tetapi mengapa kamu sangat suka bersih-bersih wahai Landak, tanya Bunglon.
Karena jika rumah bersih dan rapi, sangatlah indah untuk dipandang. Terlebih lagi, kamu tahu mana ada hewan yang mau bermain bersamaku. Sehingga daripada Aku bersedih, lebih baik Aku melakukan kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. Sehingga Aku menjadi terbiasa dan mandiri melakukan sesuatu. ucap Landak.
Bunglon berjalan-jalan melihat ruangan disekitar, melihat hiasan yang menempel di dinding tanah dan akhirnya Bunglon beristirahat duduk di dedaunan hijau yang dijadikan ayunan oleh Landak. Landak sangat terpukau saat Bunglon bisa berubah warna, dengan kaget dan tatapannya melotot takjub kearah Bunglon.
“ waaaah, kamu ajaib wahai Bunglon. Tubuhmu bisa berubah-ubah, bagaimana caranya bisa seperti itu?, tanya Landak dengan takjub.
aaah kamu bisa saja Landak, inilah kelebihanku wahai Landak. Aku bisa berubah warna, Aku tidak tahu bagaimana caranya. Intinya Aku bersyukur memiliki kelebihan seperti ini, setiap hewan itu memiliki kelebihan dan kekurangan wahai Landak. Ucap Bunglon.
Lantas kelebihanku apa, Aku hanya memiliki kekurangan wahai Bunglon, ucap Landak.
mendengar Landak berbicara seperti itu, seketika membuat Bunglon menatap Landak. Bunglon berpikir sambil memegang kepalanya dan manatap kearah langit-langit. Seketika Bunglon membuat Landak terkejut.
aaahaaaaaa, Aku tau kelebihanmu wahai Landak, ucap Bunglon sembari tersenyum.
Apa kelebihanku wahai Bunglon? tanya Landak.
kelebihanmu adalah.. adalah.. adalah, bisa bersih-bersih dan menata ruangan dengan indah.. jreeeng..jreeeng, ucap Bunglon dengan memutar-mutarkan tubuhnya.
semua hewan bisa bersih-bersih wahai Bunglon, ucap Landak.
Bunglon kembali berpikir, sembari mengelus-elus dagunya.
aaah sudahlah wahai Landak, syukuri apa yang ada. Kalau begitu Aku ingin pamit pulang dulu, hari sudah malam, ucap Bunglon sembari melompat dari ayunan.
baiklah wahai Bunglon, hati-hati dijalan. ucap Landak
Bunglon melangkahkan kaki keluar dari rumah Landak saat di dekat pintu, Bunglon membalikkan tubuhnya.
wahai Landak jangan lupa besok kita akan bertemu dengan burung Nias, besok pagi kita bertemu ditepian sungai, ucap Bunglon sembari melambaikan tangannya.
Bunglon sangat asyik bernyanyi, setiap perjalanan pulang ia selalu bernyanyi dengan riang gembira, ding..ding..ding..dung..dung..dang..ding..dung. Tiba-tiba, diperjalanan ia dikagetkan oleh Orang Utan, Bunglon sangat takut sekali. Melihat bayangan yang mendekat dengannya, seketika keringat mengalir begitu deras ditubuhnya. astaga bayangan apa ini, tanya Bunglon dengan begitu heran dan ketakutan.
Langkah kaki Orang Utan semakin dekat dengan Bunglon, tiba-tiba Orang Utan melompat kearah Bunglon, Haaaaaaaaaaaa, ucap Orang Utan sembari teriak mengagetkan Bunglon.
Bunglon teriak sangat kuat, sehingga mengganggu hewan lainnya dan membuat kelompok kelelawar keluar dari sarangnya dan pergi terbang mencari makan di malam hari.
hahahahahaha. Bunglon terkejut, ucap Orang Utan.
“ Apaan sih kamu, gak lucu wahai Orang Utan. Mengejutkan malam-malam seperti ini, ucap Bunglon.
iya deh iya maafkan Aku wahai Bunglon, ucap Orang Utan.
baiklah Aku maafkan lain kali jangan seperti ini lagi, sangat tidak baik mengejutkan seperti itu. Aku kira tadi kamu pemburu !, ucap Bunglon dengan kesal.
iya Bunglon sekali lagi Aku minta maaf, besok kita main petak umpet lagi yuk, ucap Orang Utan.
besok Aku tidak bisa, soalnya Aku mau latihan bernyanyi dengan burung Nias dan Landak. Kalau gitu Aku pulang dulu, karena besok pagi Aku harus ke sungai, daaaaaah Orang Utan Aku pulang dulu. ucap Bunglon berlari dengan cepat.
Sesampainya dirumah Bunglon beristirahat karena ia sangat lelah bermain seharian dihutan. Tiba-tiba terdengar suara petir, dwaaaaaaaarrrrrrrr, Bunglon sangat kaget dan hujan turun begitu lebat. Bunglonpun tertidur dengan begitu nyenyak dan mendengkur begitu kuat, grrrrrrrrrrrr..grrrrrrrrr..grrrrrrrrrrrr.
Keesokan harinya pagi yang sangat cerah, udara yang sangat sejuk dedaunan yang masih basah dan jalanan yang licin karena hujan semalam. Bunglon berjalan menuju sungai. Tak lupa setiap perjalanan ia selalu asyik bernyanyi, dung..dung..ding..ding..dang..ding..dung. Dengan riang gembira sembari melompat dan memutar-mutarkan tubuhnya, saking asyiknya bernyanyi iapun terpelesat, aaaaaaaaah, Bunglonpun terjatuh. Ia merintih kesakitan sambil memegang kakinya, iya berusaha bangkit, begitu pelannya iapun bangkit dan berjalan menuju sungai.
kemana Bunglon, tidak biasanya ia terlambat. masa kalah dengan Landak yang baru saja mau mulai bernyanyi, ucap burung Nias.
Kita tunggu saja dulu wahai burung Nias, pasti sebentar lagi ia akan datang, ucap Landak.
Tetapi ia tidak biasanya seperti ini, Aku jadi khawatir. Kalau begitu kamu tunggu disini dulu yah wahai Landak, Aku ingin mencari Bunglon dulu, ucap Burung Nias.
Baiklah wahai Burung Nias. Ucap Landak
Burung Nias terbang dan mencari Bunglon, ia melihat disekeliling dengan begitu tajam. Tiba-tiba ia melihat Bunglon yang sedang kesakitan dan kesulitan saat berjalan, Burung Nias langsung mengibaskan sayapnya kearah Bunglon.
wahai Bunglon apa yang terjadi, tanya burung Nias.
Tadi Aku terpeleset wahai Burung Nias, kakiku rasanya sakit sekali, ucap Bunglon.
Kalau begitu, naiklah ke punggungku, kita pergi ke sungai sekarang, ucap Burung Nias.
Baiklah wahai Burung Nias, ucap Bunglon sambil menaiki punggung Burung Nias.
Saat terbang bersama burung Nias, Bunglon sangat takjub melihat pemandangan sekitar hutan dari atas. Ia melihat hewan-hewan yang sedang asyik bermain, sungai mengalir yang sangat panjang dan pegunungan yang tersusun menjulang tinggi disetiap tempat.
waaah keren sekali wahai Burung Nias, kamu beruntung bisa terbang tinggi, melihat alam sekitar dari ketinggian, ucap Bunglon.
Merekapun sampai ditepi sungai, Landak sangat kaget melihat kondisi Bunglon. Iapun bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bunglon.
Wahai Bunglon, kamu beristirahatlah. Aku ingin mencari daun kelor dulu untuk mengobati kakimu, ucap Burung Nias sembari terbang meninggalkan sungai.
Bunglon berjalan menuju bebatuan dibantu oleh Landak. Tangan Bunglon tak engaja terkena duri Landak, aduuuuh, teriak Bunglon.
Maafkan Aku wahai Bunglon, Aku tidak sengaja, ucap Landak.
Ia Landak tidak apa-apa, ucap Bunglon.
sembari menunggu burung Nias datang, Bunglon menceritakan dirinya yang terbang bersama burung Nias, Landak sangat asyik mendengar Bunglon bercerita. Saat sedang asyik bercerita mereka melihat segerombolan Orang Utan sedang berjalan mencari makan.
enak yah, jadi Orang Utan selalu berjalan bersama dan mencari makan bersama, ucap Landak.
iya, kamu benar wahai Landak, mereka memang selalu bersama-sama. Ucap Bunglon.
Tiba-tiba burung Nias datang membawa daun Kelor, burung Niaspun langsung menumbuk daun Kelor dan mengoleskannya dikaki Bunglon. Setelah mengoleskan daun Kelor merekapun bernyanyi bersama, dengan udara yang sejuk dan angin sepoi-sepoi membuat mereka menjadi lebih bersemangat. Tak henti-hentinya mereka selalu bersyukur kepada sang Pencipta atas nikmat keindahan yang mereka rasakan. Bunglon menggerakkan kakinya, syukurlah kaki sudah membaik, Aku sudah bisa berjalan seperti biasa, terima kasih wahai burung Nias, ucap Bunglon.
iya sama-sama wahai Bunglon, lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi, ucap burung Nias.
Baiklah kalau begitu, Aku dan Landak pulang dulu yah wahai burung Nias, terimakasih sudah membantuku, ucap Bunglon.
Bunglon dan Landak pergi meninggalkan sungai, diperjalanan pulang Bunglon memiliki ide. Ia mengajak Landak untuk mencari daun, Landak sangat heran dan bingung dengan keinginan Bunglon.
kira-kira untuk apa kita mencari daun, wahai Bunglon? tanya Landak.
Untuk kita minta ajarkan cara terbang bersama burung Nias, dengan cara membuat sayap dari daun, ucap Bunglon.
waaaaah, hebat juga ide kamu wahai Bunglon, ayo kita mencari daun. Supaya kita juga bisa terbang seperi burung Nias, ucap Landak.
Mereka sangat bersemangat mencari daun, saat daun telah terkumpul mereka membawanya pulang kerumah Landak. Merekapun membuat sayap dari dedaunan, mereka satukan setiap dedaunan. Tak disangka-sangka pekerjaan tersebut membuat siang bergantian dengan malam dan akhirnya pekerjaan merekapun juga selesai. Mereka langsung menghampiri burung Nias ditepian sungai, sesampainya ditepian sungai mereka memanggil burung Nias.
burung Nias..burung Nias, ucap Bunglon dan Landak.
Hati-hati wahai Landak, nanti kamu terpeleset kesungai. Jangan terlalu tepi, ucap Bunglon.
baiklah, terimakasih wahai Bunglon, ucap Landak
Merekapun terus memanggil burung Nias yang berada disarangnya diatas sebuah pohon, burung Nias terbangun dari tidurnya. siapa sih malam-malam kayak gini bertamu, tidak tahu Aku sedang tidur, ucap burung Nias sembari keluar. Bunglon dan Landak melambaikan tangan kearah burung Nias. Burung Nias belum membuka matanya dengan sempurna, iapun masuk lagi kedalam sarangnya untuk mencuci muka.
Loh, kenapa burung Nias masuk lagi, apa mungkin dia terganggu dengan kedatangan kita?, ucap Landak.
Sepertinya begitu, kalau gitu kita pulang saja dulu. Besok pagi baru kita datang kesini lagi, ucap Bunglon.
Saat membalikkan tubuh mereka, tiba-tiba burung Nias datang.
ada apa kalian datang malam-malam?, tanya burung Nias.
Maaf mengganggu waktu istirahatmu wahai burung Nias , ucap Landak
iya, tidak apa-apa. Lagipula sudah terjadi dan Aku sudah terbangun, kira-kira kalian kenapa datang malam-malam kepadaku, ucap burung Nias.
Kami ingin belajar terbang bersamamu wahai burung Nias, kami telah membuat sayap dari dedaunan, ucap Bunglon.
Mendengar hal tersebut burung Nias tertawa terbahak-bahak, Bunglon dan Landak saling bertatapan dengan heran mereka berpikir kenapa burung Nias tertawa.
hahahahahahahaha, ada-ada saja kalian berdua. Kalian mana bisa terbang, ini adalah kelebihan kami bangsa burung yang bisa terbang, ucap burung Nias sembari tertawa.
Tetapi kita belum mencobanya wahai burung Nias, mana bisa kita tahu bisa atau tidaknya, ucap Bunglon.
Sudahlah wahai Bunglon terimalah kelebihan kalian dan jadilah diri kalian sendiri, ucap burung Nias.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang mendekati mereka, Bunglon sangat takut dan iapun berjalan berdiri ditengah-tengah Landak dan burung Nias.
siapa yang sedang menangis, ucap Landak.
Mana Aku tahu wahai Landak, Aku dari tadi disini terus, ucap Bunglon.
Mana gelap lagi, tidak kelihatan itu siapa. Kalau begitu Aku pastikan dulu itu siapa, ucap burung Nias.
Jangan burung Nias, Aku takut itu hanyalah siasat pemburu untuk mengelabui kita, ucap Bunglon.
Kamu ada benarnya juga wahai Bunglon, ucap burung Nias.
Tiba-tiba suara tangisan tersebut semakin jelas terdengar dan ternyata itu adalah suara tangisan Orang Utan. Mereka sangat terkejut dengan kedatangan Orang Utan yang menangis.
Pasti ia dimarahi ibunya, ucap Bunglon membisiki Landak.
Kamu kenapa wahai Orang Utan?, tanya burung Nias.
wahai sahabatku, bantulah Aku. Keluargaku ditangkap oleh pemburu, Bantu Aku menyelamatkan mereka. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, telah banyak keluargaku yang punah gara-gara pemburu. Aku mohon bantu Aku, ucap Orang Utan sembari menangis.
Ayo kita bantu keluarga Orang Utan, ucap Landak.
Tapikan dulu ibunya Orang Utan pernah membentakmu, ucap Bunglon membisiki Landak.
Sudahlah jangan diingat lagi, kita semua adalah keluarga. Siapa saja pernah melakukan kesalahan, ucap Landak membisiki Bunglon.
sekarang pemburu itu dimana?, tanya burung Nias.
sekarang pemburu masih diseberang hutan, sebentar lagi ia akan keluar dari hutan dan membawa keluargaku pergi, ucap Orang Utan.
Merekapun menyusun rencana untuk melepaskan keluarga Orang Utan. Setelah menyusun rencana mereka langsung pergi keseberang hutan. Dengan penuh hati-hati mereka melangkah mendekati pemburu, tiba-tiba kaki anak Orang Utan terperangkap jaring yang dibuat pemburu.
tolong..tolong..tolong, teriak Orang Utan.
Burung Nias langsung mengibas-ibaskan sayapnya kemuka pemburu dan Landak berguling-guling dengan begitu cepat kearah pemburu. Sang pemburu sangat kesakitan karena kakinya terkena duri tubuh Landak. Sedangkan Bunglon membantu Orang Utan keluar dari perangkap. Dengan menggerakan jambulnya untuk memotong tali. Setelah itu burung Nias langsung terbang kearah kendaraan pemburu dan membebaskan keluarga Orang Utan. Bunglon akhirnya berhasil memotong talinya dan mereka semua berlari kedalam hutan.
Dengan napas terengah-engah mereka masuk ketengah hutan dan seketika berhenti. Keluarga Orang Utan berterima kasih kepada mereka semua yang telah membantu.
wahai Landak, Aku minta maaf dulu pernah mengejekmu. Ternyata duri di tubuhmu memiliki kelebihan, untuk melindungi diri dari pemburu, ucap Ibu Orang Utan.
Iya, Bu. Sudah Aku maafkan, kita semua adalah keluarga dan setiap hewan memiliki kelebihan dan kekurangan dan kita harus bangga menjadi diri sendiri, ucap Landak.
Merekapun hidup rukun dan bahagia didalam hutan, sembari menari dan bernyanyi .
( ♫♫ding..ding..dung..dung.. dang..ding.. dung 1, 2, 3. Kita semua adalah keluarga, tak perlu menyakiti dan merendahkan. Kita semua sama di mata Tuhan, tak peduli kamu siapa dan Aku siapa. Setiap mahkluk itu unik.. setiap mahkluk itu unik. Jadilah dirimu sendiri, karena... kita semua unik dan kita semua adalah keluarga,♫♫). Semua bernyanyi dan menari.