Sabtu, 19 Desember 2020

Sekaput Alus

Sekaput Alus
Suatu hari matahari sangat terik, terlihat Wendi dan ketiga temannya Ryan, Pian dan Andy anak- sedang asyik berenang diperairan bekas pertambangan timah. Woy ,liatek Aku salto belakang, Ucap Wendi sembari menggerakan tubuhnya. Kau memang lihai Wen, Aku jak nang pandai men gak salto belakang, ucap Ryan. Kau se dak kuang nak kalah Yan,gak sing pandailah ape nok urang cube, Ucap Sopian. Mendengar hal tersebut Ryan langsung menepuk-nepuk air kolong dan mengibaskan air kearah Sopian. Woi, pedeh(perih) mate Aku, ucap Sopian. Andypun dengan gerakan yang cepat naik kedaratan. bilo, kau Yan kate bapak Aku dak kuang nepak-nepak aik, kelak buaya bekeluaren. Mendengar hal tersebut Ryan, Arswendi dan Sopian langsung menggerakkan tubuhnya ke darat. Bilo, Kau ne banyak nok diperatapek, buaya barang nok dak de kau sebut-sebutek. Aku dak tau juak men bapak Aku nyebut kayak gitu. Lah, usah nak beceletu (Bersahut mulut) ne. “Maksud bapak kau pun nyebut gitu pasti ade alasan e, misal e men nepak aik nang pedeh terus kini percikan aik e kenak mate, kayak Aku tadik tek diulai Ryan kenak mate aku. Nang sedanglah rase e pede mate Aku,” Ucap Sopian. 
La, woi jadilah mending kite balik la lamak kite berendam di aik mate la kayak isak (pernah) nangis la mirah. Ngerebus mie nyaman kan nyeduh kupi nyaman la udah mandi ne, Ucap Ryan.Kau usah nak ngeratap ne, kite ne pun jaoh dibang utan. kalok tang kempunaen, Ucap Wendi. Mendengar hal tersebut Ryan langsung menggigit Ibu jari tangannya, supaya tidak terjadi apa-apa dengannya. Melihat hari sudah semakin sore, Matahari sudah berwarna kemerahan suasana begitu tenang dan terlihat para kalong yang berterbangan (sejenis kelelawar dengan ukuran besar) yang terbang seakan berpapasan ingin pulang. Wendi dan teman-temannya mengayuh sepeda dengan begitu cepat karena mereka takut nanti kemalaman sampai rumah.Sesampainya dijalan raya mereka langsung berpisah dan pulang kerumah masing-masing. Sesampainya Wendi dirumahnya azan magribpun berkumandang. Dengan tatapan kesal Ibu Wendi langsung memarahi Wendi, Dari mane Wen kau ne, serepat-serepat baru balik kerumah. Bajulah mandal (kotor), la kayak nok begawe berat ajak kau ne. Usah gilak kerap gawe gini kalok tang disembunyek antu balik serepat-serepat. Urang pun men la nak magrib la dirumah nang la bereseh, mungke kau agik besunong, Ucap Ibu Wendi sembari berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu. Isak kerujan dimane kau Wen, perasaan mancar ne ari dari tadik. Mengke kau la basak baju, berape kilo dapat timah e jadi dari siang ngilang serepat baru balik,Ucap Ayah Wendi. Usah melulon ne pak, Aku isak mandik di aik kulong tadik kan biak-biak (kawan-kawan), Ucap Wendi. Ayah Wendi langsung menyalakan motornya dan berangkat ke masjid, sedangkan Wendi bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Tak lama setelah itu, disaat Ibu Wendi sudah selesai shalat. Wendi sangat lapar dan ingin memasak mie. Dengan asyiknya Wendi memasak mie membuka setiap kemasan mie sembari bernyanyi “Berage..berage..ayo kite berage. Ibu Wendi memotong nyanyian Wendi, dak baik masak sambil nyanyi, kelak kau jadi bujang tue. Nok ape-apelah umak ne, bujang tue..bujang tue. Besunat jak lum Aku. Ucap Wendi. Iye kelak pas kau la kelas lima baru besunat, Ucap Ibu Wendi. Iye mak basing e sebile, ngape mak Aku harus besunat, Ucap Wendi. Kau besunat arti e la gede, Urang laki men la besunat dak kuang durhake kan urang tue dicatat dari malaikat kiri kanan amal Kau. Iye, mak Aku kelak nak dirayaek sunat e, biar ramai urang kundangen dan aku dapat ampau,Ucap Wendi sembari menunangkan mie yang telah Ia masak kedalam mangkuk. Tiba-tiba terdengar suara teman-temannya memanggil dirinya untuk mengajak Wendi mengaji. Kawan-kawan aku la datang mak, Aku nak ngaji dulu, Ucap Wendi. Makan duluk mie kau, Ucap Ibu Wendi. Kelak la mak la udah ngaji, payah dak nyaman kawan aku la nunggu soal e. La ngenjamah itu mie, kini Kau kempunan, Ucap Ibu Wendi. Wendipun memakan satu suapan mie dan berpamitan dengan Ibunya untuk berangkat ngaji.

Sabtu, 23 Mei 2020

Mari Berdongeng

Sikap Kekeluargaan Landak, Orang Utan dan Burung Nias
Oleh
Elis Anggrayani
Suatu hari disebuah hutan yang rindang nan hijau, terlihat keluarga Orang Utan yang sedang asyik bermain, mereka saling bergelantungan dan berlari-kesana kemari. Saat asyik bermain, datanglah seekor Landak, dengan begitu lincah Landak berlari menghampiri anak  Orang Utan yang sedang bermain.
Hai, Orang Utan. Apakah Aku boleh bergabung dengan kalian, ucap Landak
Orang Utan saling mengarahkan pandangan mereka saling bertatapan satu dengan yang lain. Mereka sangat heran melihat tubuh Landak yang penuh duri.
Kenapa kalian melihatku seperti itu, ucap Landak.
Mendengar hal tersebut salah satu anak Orang Utan sangat bersimpati dengan Landak, sehingga ia mengajak Landak untuk bergabung dengannya. Sedangkan, anak Orang Utan lainnya pergi menjauhi mereka. 
Baiklah Landak, Aku akan mengajakmu untuk bermain bersama, ucap Orang Utan.
Mendengar hal tersebut Landak sangat senang sekali, Ia girang dan bergembira. Karena selama ini, tidak ada hewan yang ingin bermain dengannya. 
Ayo Orang utan, waktunya kita bermain, ajakan Landak.
Sabar dulu wahai Landak, kita tunggu sahabat kita satu lagi, ucap Orang Utan.
Landak nampak heran dan bertanya-tanya, siapa hewan yang sedang ditunggu. 
Tiba-tiba datanglah Bunglon yang keluar dari semak-semak, dengan bahagia Bunglon berjalan sembari bernyanyi  Ning..Nang..ning.. Nung, sya la la la, nyanyian Bunglon.
Wahai Bunglon lama sekali kamu, memangnya kamu habis dari mana. Kami sudah lama menunggumu disini, ucap Orang Utan  dengan kesal.
maafkan Aku teman-teman, Aku baru saja dari sungai. Aku belajar bernyanyi dengan burung Nias, Suara burung Nias sangat merdu sekali. Ucap Bunglon.
Baiklah Bunglon, lain kali jangan seperti ini lagi. Datanglah untuk tetap waktu, kemarin kamu sendiri yang bilang tidak boleh terlambat, Tetapi mengapa kamu yang ingkar, Ucap Orang Utan. 
Baiklah teman-teman Aku tidak akan mengulanginya lagi, Ucap Bunglon dengan murung.
Mendengar hal tersebut, membuat Landak sangat kasihan dengan Bunglon. Ia menenangkan Orang Utan yang sangat kesal dengan Bunglon, Landak menenangkan Orang Utan. Landak memberitahu bahwa kita tidak boleh menghakimi, karena setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan. Mendengar hal tersebut Orang Utan memaafkan Bunglon dan mereka memulai untuk bermain petak umpet.
Tapi kira-kira bagaimana cara menentukan, Siapa yang bersembunyi dan menjaga pohon, Tanya Landak.
Iya kamu benar Landak, bagaimana yah caranya, kira-kira kalian bunya ide? tanya Bunglon.
Kita menggunakan Daun saja, pada Daun terdapat dua pilihan ada yang telentang dan telingkup. Nanti kita pilih siapa yang ingin telentang dan ingin telingkup, setelah itu kita lemparkan daun keatas. Saat daun jatuh ke tanah, kita akan mengetahui siapa yang akan menjadi pemenang. Jumlah pilihan terbanyak itulah pemenangnya, Usul Orang Utan.
Ide yang bagus, kalau begitu sebaiknya kamu ambil  daun dipohon itu, ucap Bunglon.
Orang Utan langsung berlari dan memanjat pohon, dengan cepat dan lincah iya mengambil daun. Landak sangat terpukau melihat Orang Utan yang begitu cepat saat memanjat pohon Waw, keren sekali Orang Utan, ucap Landak dengan kagum.
Dia memang hebat jika melompat dan bergelantungan dipohon, nanti kamu akan melihat kelebihanku saat kita bermain petak umpet, ucap Bunglon dengan membanggakan dirinya.
Kamu juga punya kelebihan wahai Bunglon, Aku penasaran kira-kira apa kelebihanmu?, Tanya Landak.
Nanti kamu akan tahu sendiri, memangnya kamu Landak. Kamu tidak memiliki kelebihan, namun kamu hanya memiliki kekurangan. Jalanmu lambat dan badanmu dipenuhi duri, sehingga tidak ada hewan yang mau berteman denganmu Ucap Bunglon.
Orang Utan langsung melompat kearah Bunglon dan Landak, 
Mari kita mulai wahai sahabatku, sekarang kalian mau memilih daun ini dalam posisi telentang atau telingkup, tanya Orang Utan
Aku mau telingkup, jawab Bunglon
Kalau Aku telentang, ucap Landak
Baiklah, kalau Aku memilih telingkup. Sekarang kita lempar daunnya satu..dua.. tiga lempar.
Daun tersebut dilempar Oleh Orang Utan, berputar-putar dan melayang di udara daun tersebut membuat mereka gugup dan ketakutan. Sang Bunglon berteriak, telingkup..telingkup..telingkup, ucap Bunglon sembari melompat. Tak mau kalah, Landak juga teriak dan berharap daun terjatuh dalam posisi telentang. Landakpun berteriak dengan asyik dan bersemangat, telentang..telentang..telentang.
Saat daun jatuh ke tanah, Bunglon dan Orang Utan berteriak Bahagia. Sembari melompat riang, Yeeh, kami menang Landak jaga pohon, ucap Orang Utan.
Bunglon dan Orang Utan segera berlari mencari tempat persembunyian, sedangkan Landak harus menutup matanya sembari berhitung dari satu sampai sepuluh. Setelah selesai berhitung Landak mencari Bunglon dan Orang Utan, dengan sangat hati-hati Landak mencari Orang Utan dan Bunglon. Karena Landak sangat takut jika sahabatnya menyentuh pohon, karena jika sahabatnya bisa menyentuh pohon yang ia jaga. Maka ia akan menjaga lagi, langkah demi langkah Landak berjalan mencari sahabatnya, sesekali ia menoleh ke arah pohon yang ia jaga. Cuaca yang begitu panas membuat Landak sangat kewalahan mencari sahabatnya, sehingga keringat ditubuhnya bercucuran membasahi tubuhnya. 
wahai sahabatku kalian dimana, teriak Landak.
sembari berjalan, Landak melihat ekor Orang Utan berada dibalik pohon Ulin dengan pelan Landak melangkah kearah Orang Utan, ia berjalan dengan penuh hati-hati. Jangan sampai langkahnya terdengar oleh Orang Utan. Namun, disisi lain Bunglon tertawa melihat tingkah Landak. 
Ada-ada saja tingkah lakumu wahai Landak, padahal kamu telah melewatiku sebelumny. Namun, kamu tak melihatku karena aku telah berubah warna, ucap Bunglon sembari tertawa.
Landak terus berjalan, semakin dekat dan mendekat berada tepat dibelakang tubuh Orang Utan, Landak langsung mengejutkan Orang Utan,   baaaaah, teriak Landak. 
Orang Utan sangat terkejut, sontak ia teriak sembari berlari menuju pohon yang dijaga Landak, saat berlari begitu cepat Kaki Orang Utan tak sengaja terkena dengan duri Landak, iapun merengek kesakitan dan menangis oek.. oek.. oek ..oek, tangisan Orang Utan. Iapun langsung menghampiri ibunya yang sedang asyik mencari kutu,
Ibu Kaki ku berdarah kena duri Landak, ucap Orang Utan dengan isak tangis.
“Harusnya kamu jangan bermain dengan Landak, sekarang kamu rasakan sendirikan. Kakimu berdarah karena duri tubuhnya!, Ucap ibu Orang Utan. 
Mendengar hal tersebut Landak sangat sedih, ia mendekati Orang Utan dan meminta maaf. 
Wahai Orang Utan maafkan Aku, karena duri ditubuhku membuatmu jadi terluka, ucap Landak.
Orang Utan mengusap air matanya dan memaafkan Landak.
Sudahlah Landak sekarang kamu tidak usah bermain disini lagi, sekarang kamu pulang saja !, ucap Ibu Orang Utan dengan mata melotot. 
Mendengar hal tersebut Bunglon langsung melompat kearah Landak, 
Sudahlah ibu Orang Utan jangan memarahi Landak, dia juga tidak sengaja. ucap Bunglon. 
Gara-gara duri ditubuhnya, membuat anakku terluka. Jika terjadi apa-apa dengan anakku awas ya kamu Landak !, Ucap ibu Orang Utan sembari meneriaki Landak.
Sudahlah, Bu jangan seperti itu. Malu didengar oleh hewan lain, lagipula masalahnya hanya sepela, tidak perlu dibesar-besarkan ucap anak Orang Utan sembari menenangkan Ibunya. 
Biarkan saja, biar hewan lainnya tahu. Supaya lebih berhati-hati dengan Landak jika mereka tak mau celaka, ucap Ibu Orang Utan. 
Landak sangat sedih mendengar hal tersebut dan ia tidak bisa melawan karena ia merasa apa yang dibicarakan ibu Orang Utan sangatlah benar, ia merasa tak pantas untuk dijadikan teman. Bunglon selalu membela Landak, karena ia tahu bahwa Landak tidak sengaja untuk melukai Orang Utan.
Wahai Ibu Landak harusnya engkau tidak boleh berkata seperti itu, suatu saat engkau akan dibantu oleh Landak. Memang bukan sekarang, tapi suatu saat engkau akan minta pertolongan dengan Landak. Ucap Bunglon. 
Ibu Orang Utan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bunglon.
HaHaHaHa, Kamu berbicara apa barusan, sudahlah wahai Bunglon kamu jangan bercanda. Sungguh bercandaanmu itu lucu sekali, mana mungkin Aku meminta bantuan dengan Landak yang bertubuh kecil dan berduri, ucap Ibu Orang Utan. 
“ sudahlah wahai Landak sebaiknya kita pergi, ucap Bunglon sembari membisiki Landak.
Dengan begitu sedih Landak hanya menganggukan kepalanya, Bunglon dan Landak berjalan pulang kerumah mereka yang satu arah. 
Terimakasih wahai Bunglon, kamu telah membelaku. Aku kira kamu bukanlah hewan yang baik. Soalnya saat Aku bertemu denganmu tadi, kamu terlihat begitu sombong, ucap Landak.
hehehehe jangan melihat dari luarnya saja wahai Landak, tapi kau harus mengenalku lebih dalam untuk mengetahui sikapku. Tidak baik langsung begitu saja menilaiku, ucap Bunglon sembari memegang duri Landak. 
Mengapa kamu memegang duriku, ucap Landak.
Aku hanya ingin memastikan apakah durimu memang tajam. Ternyata durimu tajam juga wahai Landak, ucap Bunglon.
iya, wahai Bunglon. Aku sangat sedih gara-gara duri ditubuhku semua hewan mejauhiku, mereka takut berteman denganku. Setiap Aku ingin mengajak mereka bermain pasti mereka selalu menolaknya, ucap Landak dengan begitu sedih. 
Sudahlah Landak jangan kamu pikirkan tidak semua hewan seperti itu. Contohnya Aku masih mau berteman denganmu, kamu jangan sedih. Aku akan selalu mejadi sahabatmu, besok kamu ikut denganku kita bermain dengan Burung Nias. Kita belajar bernyanyi bersama,  Ucap Bunglon. 
Terimakasih wahai Bunglon, ucap Landak
Setelah asyiknya mereka berjalan dan berbincang-bincang, akhirnya Landak sampai kerumahnya. Namun, Bunglon nampak heran. Karena ia tak melihat ada rumah didekatnya, Bunglon kira Landak sedang bercanda. Karena disekelilingnya hanya pepohonan yang rindang dan terbuka, Bunglon berpikir bagaimana Landak bisa berteduh jika terjadi hujan.
mana rumahmu wahai Landak, Aku tak melihat ada rumah didekatku. Kamu bercanda yah, kamu sedang berusaha menghibur diri karena kamu tadi sangat sedih, ucap Bunglon.
Sabar wahai Bunglon, tapi ucapanmu itu ada benarnya wahai Bunglon. Kita sendirilah yang bisa menghibur diri kita sendiri, supaya tidak larut dalam kesedihan, ucap Landak sembari mengais daun-daun kering 
Kamu mengapa mengais daun kering itu wahai Landak?, tanya Bunglon dengan heran.
Sebentar lagi kamu akan tahu wahai Bunglon, ucap Landak.
Bunglon menunggu dan melihat tingkah Landak yang asyik mengais daun kering, wahai Bunglon semangati Aku untuk mengais daun kering ini, ucap Landak sembari tertawa. Bunglon kembali heran dengan tingkah aneh Landak, 
 Bagaimana caranya Aku menyemangatimu wahai Landak, tanya Bunglon sembari menggaruk kepalanya. 
Kamu cukup berhitung satu.. dua.. tiga.. kais..kais..kais, ucap Landak.
Mendengar ucapan Landak, Bunglon sangat tertarik untuk melakukannya. Bunglon berpikir hitung-hitung ia belajar latihan bernyanyi. Bunglon langsung melakukan perintah Landak sembari melompat dengan riang bahagia.
satu.. du..du..dua, ti.. ti.. tiga.. Kais..kais..kais, ucap Bunglon dengan suara yang kuat dan bergema.
Bunglon Kaget melihat sebuah lubang yang ditutupi ranting pepohonan sebagai pintu masuk yang tersusun rapi dibawah tanah.
Inilah rumahku wahai Bunglon, mari kita masuk, ucap Landak.
Bunglon dan Landakpun masuk kedalam rumah, Bunglon sangat takjub melihat isi dalam rumah Landak yang penuh dengan hiasan yang menepel pada dinding tanah. Tidak hanya itu rumah Landak juga bersih dan tertata rapi. Tempat tidur terbuat dari sisa-sisa ranting dan daun-daun kering yang dibuat setengah lingkaran bergelantungan dekat lampu. 
rumahmu bagus, bersih dan rapi wahai Landak, ucap Bunglon.
terima kasih wahai Bunglon, Aku sangat suka membersihkan rumah dan itu sudah menjadi kebiasaanku, Ucap Landak. 
tetapi mengapa kamu sangat suka bersih-bersih wahai Landak, tanya Bunglon. 
Karena jika rumah bersih dan rapi, sangatlah indah untuk dipandang. Terlebih lagi, kamu tahu mana ada hewan yang mau bermain bersamaku. Sehingga daripada Aku bersedih, lebih baik Aku melakukan kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. Sehingga Aku menjadi terbiasa dan mandiri melakukan sesuatu. ucap Landak.
Bunglon berjalan-jalan melihat ruangan disekitar, melihat hiasan yang menempel di dinding tanah dan akhirnya Bunglon beristirahat duduk di dedaunan hijau yang dijadikan ayunan oleh Landak. Landak sangat terpukau saat Bunglon bisa berubah warna, dengan kaget dan tatapannya melotot takjub kearah Bunglon. 
“ waaaah, kamu ajaib wahai Bunglon. Tubuhmu bisa berubah-ubah, bagaimana caranya bisa seperti itu?, tanya Landak dengan takjub. 
aaah kamu bisa saja Landak, inilah kelebihanku wahai Landak. Aku bisa berubah warna, Aku tidak tahu bagaimana caranya. Intinya Aku bersyukur memiliki kelebihan seperti ini, setiap hewan itu memiliki kelebihan dan kekurangan wahai Landak. Ucap Bunglon. 
Lantas kelebihanku apa, Aku hanya memiliki kekurangan wahai Bunglon, ucap Landak.
mendengar Landak berbicara seperti itu, seketika membuat Bunglon menatap Landak. Bunglon berpikir sambil memegang kepalanya dan manatap kearah langit-langit. Seketika Bunglon membuat Landak terkejut.
aaahaaaaaa, Aku tau kelebihanmu wahai Landak, ucap Bunglon sembari tersenyum. 
Apa kelebihanku wahai Bunglon? tanya Landak.
kelebihanmu adalah.. adalah.. adalah, bisa bersih-bersih dan menata ruangan dengan indah.. jreeeng..jreeeng, ucap Bunglon dengan memutar-mutarkan tubuhnya.
semua hewan bisa bersih-bersih wahai Bunglon, ucap Landak.
Bunglon kembali berpikir, sembari mengelus-elus dagunya.
aaah sudahlah wahai Landak, syukuri apa yang ada. Kalau begitu Aku ingin pamit pulang dulu, hari sudah malam, ucap Bunglon sembari melompat dari ayunan.
baiklah wahai Bunglon, hati-hati dijalan. ucap Landak 
Bunglon melangkahkan kaki keluar dari rumah Landak saat di dekat pintu, Bunglon membalikkan tubuhnya.
wahai Landak jangan lupa besok kita akan bertemu dengan burung Nias, besok pagi kita bertemu ditepian sungai, ucap Bunglon sembari melambaikan tangannya. 
Bunglon sangat asyik bernyanyi, setiap perjalanan pulang ia selalu bernyanyi dengan riang gembira, ding..ding..ding..dung..dung..dang..ding..dung. Tiba-tiba, diperjalanan ia dikagetkan oleh Orang Utan, Bunglon sangat takut sekali. Melihat bayangan yang mendekat dengannya, seketika keringat mengalir begitu deras ditubuhnya. astaga bayangan apa ini, tanya Bunglon dengan begitu heran dan ketakutan.
Langkah kaki Orang Utan semakin dekat dengan Bunglon, tiba-tiba Orang Utan melompat kearah Bunglon, Haaaaaaaaaaaa, ucap Orang Utan sembari teriak mengagetkan Bunglon.
Bunglon teriak sangat kuat, sehingga mengganggu hewan lainnya dan membuat kelompok kelelawar keluar dari sarangnya dan pergi terbang mencari makan di malam hari.
hahahahahaha. Bunglon terkejut, ucap Orang Utan. 
“ Apaan sih kamu, gak lucu wahai Orang Utan. Mengejutkan malam-malam seperti ini, ucap Bunglon. 
iya deh iya maafkan Aku wahai Bunglon, ucap Orang Utan.
baiklah Aku maafkan lain kali jangan seperti ini lagi, sangat tidak baik mengejutkan seperti itu. Aku kira tadi kamu pemburu !, ucap Bunglon dengan kesal. 
iya Bunglon sekali lagi Aku minta maaf, besok kita main petak umpet lagi yuk, ucap Orang Utan.
besok Aku tidak bisa, soalnya Aku mau latihan bernyanyi dengan burung Nias dan Landak. Kalau gitu Aku pulang dulu, karena besok pagi Aku harus ke sungai, daaaaaah Orang Utan Aku pulang dulu. ucap Bunglon berlari dengan cepat. 
Sesampainya dirumah Bunglon beristirahat karena ia sangat lelah bermain seharian dihutan. Tiba-tiba terdengar suara petir, dwaaaaaaaarrrrrrrr, Bunglon sangat kaget dan hujan turun begitu lebat. Bunglonpun tertidur dengan begitu nyenyak dan mendengkur begitu kuat, grrrrrrrrrrrr..grrrrrrrrr..grrrrrrrrrrrr. 
Keesokan harinya pagi yang sangat cerah, udara yang sangat sejuk dedaunan yang masih basah dan jalanan yang licin karena hujan semalam. Bunglon berjalan menuju sungai. Tak lupa setiap perjalanan ia selalu asyik bernyanyi, dung..dung..ding..ding..dang..ding..dung. Dengan riang gembira sembari melompat dan memutar-mutarkan tubuhnya, saking asyiknya bernyanyi iapun terpelesat, aaaaaaaaah, Bunglonpun terjatuh. Ia merintih kesakitan sambil memegang kakinya, iya berusaha bangkit, begitu pelannya iapun bangkit dan berjalan menuju sungai. 
kemana Bunglon, tidak biasanya ia terlambat. masa kalah dengan Landak yang baru saja mau mulai bernyanyi, ucap burung Nias. 
Kita tunggu saja dulu wahai burung Nias, pasti sebentar lagi ia akan datang, ucap Landak.
Tetapi ia tidak biasanya seperti ini, Aku jadi khawatir. Kalau begitu kamu tunggu disini dulu yah wahai Landak, Aku ingin mencari Bunglon dulu, ucap Burung Nias. 
Baiklah wahai Burung Nias. Ucap Landak
Burung Nias terbang dan mencari Bunglon, ia melihat disekeliling dengan begitu tajam. Tiba-tiba ia melihat Bunglon yang sedang kesakitan dan kesulitan saat berjalan, Burung Nias langsung mengibaskan sayapnya kearah Bunglon.
wahai Bunglon apa yang terjadi, tanya burung Nias. 
Tadi Aku terpeleset wahai Burung Nias, kakiku rasanya sakit sekali, ucap Bunglon. 
Kalau begitu, naiklah ke punggungku, kita pergi ke sungai sekarang, ucap Burung Nias.
Baiklah wahai Burung Nias, ucap Bunglon sambil menaiki punggung Burung Nias. 
Saat terbang bersama burung Nias, Bunglon sangat takjub melihat pemandangan  sekitar hutan dari atas. Ia melihat hewan-hewan yang sedang asyik bermain, sungai mengalir yang sangat panjang dan pegunungan yang tersusun menjulang tinggi disetiap tempat. 
waaah keren sekali wahai Burung Nias, kamu beruntung bisa terbang tinggi, melihat alam sekitar dari ketinggian, ucap Bunglon. 
Merekapun sampai ditepi sungai, Landak sangat kaget melihat kondisi Bunglon. Iapun bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Bunglon.
Wahai Bunglon, kamu beristirahatlah. Aku ingin mencari daun kelor dulu untuk mengobati kakimu, ucap Burung Nias sembari terbang meninggalkan sungai. 
Bunglon berjalan menuju bebatuan dibantu oleh Landak. Tangan Bunglon tak engaja terkena duri Landak, aduuuuh, teriak Bunglon. 
Maafkan Aku wahai Bunglon, Aku tidak sengaja, ucap Landak.
Ia Landak tidak apa-apa, ucap Bunglon.
sembari menunggu burung Nias datang, Bunglon menceritakan dirinya yang terbang bersama burung Nias, Landak sangat asyik mendengar Bunglon bercerita. Saat sedang asyik bercerita mereka melihat segerombolan Orang Utan sedang berjalan mencari makan. 
enak yah, jadi Orang Utan selalu berjalan bersama dan mencari makan bersama, ucap Landak.
iya, kamu benar wahai Landak, mereka memang selalu bersama-sama. Ucap Bunglon.
Tiba-tiba burung Nias datang membawa daun Kelor, burung Niaspun langsung menumbuk daun Kelor dan mengoleskannya dikaki Bunglon. Setelah mengoleskan daun Kelor merekapun bernyanyi bersama, dengan udara yang sejuk dan angin sepoi-sepoi membuat mereka menjadi lebih bersemangat. Tak henti-hentinya mereka selalu bersyukur kepada sang Pencipta atas nikmat keindahan yang mereka rasakan. Bunglon menggerakkan kakinya, syukurlah kaki sudah membaik, Aku sudah bisa berjalan seperti biasa, terima kasih wahai burung Nias, ucap Bunglon. 
iya sama-sama wahai Bunglon, lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi, ucap burung Nias. 
Baiklah kalau begitu, Aku dan Landak pulang dulu yah wahai burung Nias, terimakasih sudah membantuku, ucap Bunglon.  
Bunglon dan Landak pergi meninggalkan sungai, diperjalanan pulang Bunglon memiliki ide. Ia mengajak Landak untuk mencari daun, Landak sangat heran dan bingung dengan keinginan Bunglon. 
kira-kira untuk apa kita mencari daun, wahai Bunglon? tanya Landak.
Untuk kita minta ajarkan cara terbang bersama burung Nias, dengan cara membuat sayap dari daun, ucap Bunglon. 
waaaaah, hebat juga ide  kamu wahai Bunglon, ayo kita mencari daun. Supaya kita juga bisa terbang seperi burung Nias, ucap Landak.
Mereka sangat bersemangat mencari daun, saat daun telah terkumpul mereka membawanya pulang kerumah Landak. Merekapun membuat sayap dari dedaunan, mereka satukan setiap dedaunan. Tak disangka-sangka pekerjaan tersebut membuat siang bergantian dengan malam dan akhirnya pekerjaan merekapun juga selesai. Mereka langsung menghampiri burung Nias ditepian sungai, sesampainya ditepian sungai mereka memanggil burung Nias.
burung Nias..burung Nias, ucap Bunglon dan Landak. 
Hati-hati wahai Landak, nanti kamu terpeleset kesungai. Jangan terlalu tepi, ucap Bunglon. 
baiklah, terimakasih wahai Bunglon, ucap Landak 
Merekapun terus memanggil burung Nias yang berada disarangnya diatas sebuah pohon, burung Nias terbangun dari tidurnya. siapa sih malam-malam kayak gini bertamu, tidak tahu Aku sedang tidur, ucap burung Nias sembari keluar. Bunglon dan Landak melambaikan tangan kearah burung Nias. Burung Nias belum membuka matanya dengan sempurna, iapun masuk lagi kedalam sarangnya untuk mencuci muka. 
Loh, kenapa burung Nias masuk lagi, apa mungkin dia terganggu dengan kedatangan kita?, ucap Landak.
Sepertinya begitu, kalau gitu kita pulang saja dulu. Besok pagi baru kita datang kesini lagi, ucap Bunglon. 
Saat membalikkan tubuh mereka, tiba-tiba burung Nias datang.
ada apa kalian datang malam-malam?, tanya burung Nias. 
Maaf mengganggu waktu istirahatmu wahai burung Nias , ucap Landak
iya, tidak apa-apa. Lagipula sudah terjadi dan Aku sudah terbangun, kira-kira kalian kenapa datang malam-malam kepadaku, ucap burung Nias. 
Kami ingin belajar terbang bersamamu wahai burung Nias, kami telah membuat sayap dari dedaunan, ucap Bunglon. 
Mendengar hal tersebut burung Nias tertawa terbahak-bahak, Bunglon dan Landak saling bertatapan dengan heran mereka berpikir kenapa burung Nias tertawa. 
hahahahahahahaha, ada-ada saja kalian berdua. Kalian mana bisa terbang, ini adalah kelebihan kami bangsa burung yang bisa terbang, ucap burung Nias sembari tertawa. 
   Tetapi kita belum mencobanya wahai burung Nias, mana bisa kita tahu bisa atau tidaknya, ucap Bunglon.
Sudahlah wahai Bunglon terimalah kelebihan kalian dan jadilah diri kalian sendiri, ucap burung Nias.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang mendekati mereka, Bunglon sangat takut dan iapun berjalan berdiri ditengah-tengah Landak dan burung Nias. 
siapa yang sedang menangis, ucap Landak.
Mana Aku tahu wahai Landak, Aku dari tadi disini terus, ucap Bunglon. 
Mana gelap lagi, tidak kelihatan itu siapa. Kalau begitu Aku pastikan dulu itu siapa, ucap burung Nias.
Jangan burung Nias, Aku takut itu hanyalah siasat pemburu untuk mengelabui kita, ucap Bunglon. 
Kamu ada benarnya juga wahai Bunglon, ucap burung Nias. 
Tiba-tiba suara tangisan tersebut semakin jelas terdengar dan ternyata itu adalah suara tangisan Orang Utan. Mereka sangat terkejut dengan kedatangan Orang Utan yang menangis.
Pasti ia dimarahi ibunya, ucap Bunglon membisiki Landak.
Kamu kenapa wahai Orang Utan?, tanya burung Nias. 
wahai sahabatku, bantulah Aku. Keluargaku ditangkap oleh pemburu, Bantu Aku menyelamatkan mereka. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, telah banyak keluargaku yang punah gara-gara pemburu. Aku mohon bantu Aku, ucap Orang Utan sembari menangis. 
Ayo kita bantu keluarga Orang Utan, ucap Landak.
Tapikan dulu ibunya Orang Utan pernah membentakmu, ucap Bunglon membisiki Landak. 
Sudahlah jangan diingat lagi, kita semua adalah keluarga. Siapa saja pernah melakukan kesalahan, ucap Landak membisiki Bunglon. 
sekarang pemburu itu dimana?, tanya burung Nias. 
sekarang pemburu masih diseberang hutan, sebentar lagi ia akan keluar dari hutan dan membawa keluargaku pergi, ucap Orang Utan.
Merekapun menyusun rencana untuk melepaskan keluarga Orang Utan. Setelah menyusun rencana mereka langsung pergi keseberang hutan. Dengan penuh hati-hati mereka melangkah mendekati pemburu, tiba-tiba kaki anak Orang Utan terperangkap jaring yang dibuat pemburu. 
tolong..tolong..tolong, teriak Orang Utan.
Burung Nias langsung mengibas-ibaskan sayapnya kemuka pemburu dan Landak berguling-guling dengan begitu cepat kearah pemburu. Sang pemburu sangat kesakitan karena kakinya terkena duri tubuh Landak. Sedangkan Bunglon membantu Orang Utan keluar dari perangkap. Dengan menggerakan jambulnya untuk memotong tali. Setelah itu burung Nias langsung terbang kearah kendaraan pemburu dan membebaskan keluarga Orang Utan. Bunglon akhirnya berhasil memotong talinya dan mereka semua berlari kedalam hutan. 
Dengan napas terengah-engah mereka masuk ketengah hutan dan seketika berhenti. Keluarga Orang Utan berterima kasih kepada mereka semua yang telah membantu.
wahai Landak, Aku minta maaf dulu pernah mengejekmu. Ternyata duri di tubuhmu memiliki kelebihan, untuk melindungi diri dari pemburu, ucap Ibu Orang Utan. 
Iya, Bu. Sudah Aku maafkan, kita semua adalah keluarga dan setiap hewan memiliki kelebihan dan kekurangan dan kita harus bangga menjadi diri sendiri, ucap Landak. 
Merekapun hidup rukun dan bahagia didalam hutan, sembari menari dan bernyanyi .
( ♫♫ding..ding..dung..dung.. dang..ding.. dung 1, 2, 3. Kita semua adalah keluarga, tak perlu menyakiti dan merendahkan. Kita semua sama di mata Tuhan, tak peduli kamu siapa dan Aku siapa. Setiap mahkluk itu unik.. setiap mahkluk itu unik. Jadilah dirimu sendiri, karena... kita semua unik dan kita semua adalah keluarga,♫♫). Semua bernyanyi dan menari.

Selasa, 28 April 2020

cerita Persahabatan Arswendi dan Ryan

Pagi ini tampak cerah, kilauan mentari mengecup pipi siapapun yang melintasi jalan. Hirau birau jalanan dipenuhi sepeda motor karena pagi hari memang banyak sekali orang yang berkegiatan diluar rumah. Arswendi dan Ryan berjalan ditepi-tepi jalan dengan berhati-hati dengan seragam putih merah yang lengkap dengan penuh suka cita mereka berjalan menuju sekolah. Dengan saling bercanda dan tertawa mereka begitu asyik berjalan bersama. 
Seketika akan sampai terlihat pak Sopian yang merupakan guru dari sekolahan tersebut sedang berdiri didepan pintu gerbang sekolah sembari menunggu siswa-siswi yang datang. Saat Arswendi dan Ryan mendekat, mereka menegur pak Sopian dan mencium tangan Pak Sopian. Setelah itu, mereka langsung menuju kelas mereka. Terlihat banyak sekali siswa-siswi yang sednag asyik bermain dan melakukan piket umum. Seketika bel masuk berbunyi, Kriiing Kriiing Kriiiing, siswa siswi langsung berlari memasuki kelas dan ada juga kelas yang tampak baris-berbaris didepan kelas. 
tuk tuk tuk, terdengar suara sepatu yang seketika mendekat menuju kelas Arswendi dan Ryan. iya, benar saja seorang guru dengan senyum ramah seketika memasuki kelas, dengan meletakkan bukunya dimeja. Guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa sebelum belajar. Dengan begitu semangat dan riang siswa siswi mengeluarkan suara-suara mereka untuk membaca doa. Seketika sang guru menjelaskan materi yang akan dipelajari. Diakhir pembelajaran sang guru menyampaikan kepada siswa-siswi mengenai buku pembelajaran. 
”Ibu, mau menyampaikan kepada kalian. untuk mempermudah kalian belajar dirumah. ibu mau mengingatkan kalian untuk, membeli buku ini ( sembari menunjukan kepada siswa-siswi) harga buku ini lima belas ribu rupiah dan untuk pembayarannya boleh lusa”, kata Ibu Guru.
Lusa itu kapan bu?, tanya Arswendi.
 Lusa itu adalah hari sesudah besok atau hari yang ketiga sesudah hari ini, jika besok hari rabu maka setelah rabu hari apa, Jawab ibu Guru.
Sontak semua siswa menjawab dengan serentak,  hari kamis bu.
Hebat sekali anak ibu, jadi sekarang sudah tahukan jika teman atau orang tua kalian bilang lusa, tanya ibu guru. 
Setelah menjelaskan kepada siswa gurupun langung menutup pembelajaran hari ini, karena ada rapat jadi siswa-siswi dipulangkan lebih awal. Siswa-siswipun langsung pulang kerumah masing-masing dan ada juga yang sedang menunggu orang tuanya. Saat sampai dirumah Ryan memanggil Ibunya dan mencium tangan ibunya, Sembari meletakkan tasnya dimeja Ryan menyampaikan kepada ibunya, bahwa ia diminta guru untuk membeli buku. 
Bu, kami diminta ibu guru untuk membeli buku, yang harganya dua puluh lima ribu rupiah, ucap Ryan.
Buku apa Yan, tanya ibunya.
Buku pembelajaran bu, katanya terakhir pembeliannya lusa bu, ucap Ryan
Baiklah, besok ibu berikan uangnya. sekarang kamu ganti baju setelah itu makan. Ucap ibu.
Ryan berjalan menuju kamarnya dengan membawa semua perlengkapan sekolahnya kekamar. Setelah berganti pakaian Ryan menikmati makanan masakan ibunya, setelah akan selesai makan Arswendi pun datang mengajak Ryan untuk bermain layang-layangan. Namun, sebelum berangkat Ryan harus mencuci piring terlebih dahulu dan meminta izin kepada ibunya. Setelah selesai mencuci piring Ryan merayu ibunya untuk meminta izin pergi bermain. 
bu,, oh bu( sembari mengosok pundak ibunya dengan muka yang memelas). Dengan senyum menerka ibunya berkata,  Pasti mau mainkan, ( sembari mengolok Ryan). Iya, bu. bolehkan bu, sahut Ryan. sontak ibu menjawab, boleh , tapi ingat jangan pulang terlalu malam, sebelum ashar sudah harus pulang. Kalau sebelum ashar belum pulang,  tiga hari tidak boleh bermain keluar rumah ya. Sembari mencium tangan ibunya, Ryan langsung pergi bermain bersama Arswendi. 
cuaca teramat panas, sehingga keringat membasahi baju mereka. Namun hal tersebut tak mereka hiraukan karena kegembiraan yang mereka lakukan. Dengan sorak-sorak lantang, mereka teramat gembira terlebih layang-layang mereka melayang teramat tinggi diudara. Asyik-asyik mereka menarik layangan tanpa sadar layang Arswendi tersangkut dipohon jengkol yang berada disekitar lapangan. Ia langsung mengejar layang-layang tersebut, dia berpikir untuk menaiki pohon jengkol tersebut.  Namun, saat ingin menaiki pohon tersebut Ia digigit oleh semut rangrang. Sontak ia kaget dan menepas-nepas semut rangrang yang menempel di bajunya. Arswendi berinisiatif dengan tidak mengambil layangan tersebut, terlebih lagi pohon yang amat besar dan tinggi. Sehingga mereka berinisiatif untuk pulang kerumah masing-masing. Terlebih lagi hari sudah nampak sore dan matahari tampak berpindah tempat.
Sesampainya dirumah ibu Ryan sangat kaget melihat celana dan baju Ryan yang kotor dan terlebih lagi celana Ryan yang dipenuhi dengan rumput jarum. Ibupun meminta Ryan untuk membersihkan rumput jarum yang menempel di celana Ryan. Ryan langsung duduk di dekat pintu dapur sembari membuang satu-satu rumput jarum yang menempel di celananya. setelah selesai Ryan langsung mandi karena tubuhnya sudah terasa gatal-gatal karena keringat yang menempel dibadannya. 
Hari semakin malam, mataharipun berpamitan terdengar suara kumandang adzan magrib. Sontak Ryan berganti pakaian dengan cepat dan mengikuti ayahnya ke masjid. Ryan dan ayahnya melakukan shalat berjamaah dimasjid. Haripun semakin cepat berlalu dan waktu cepat berjalan tak disadari sudah memasuki waktu pagi kembali. Dengan amat rapi Ryan mengunakan seragam sekolahnya , sebelum berangkat sekolah tak lupa ia berpamitan dengan kedua orang tuanya dan tak lupa juga ia meminta uang untuk membeli buku. Ibunya memberikan uang tiga puluh ribu yaitu lima ribu untuk uang Ryan jajan disekolah. Sembari menerima uang dan bersalaman Ryan langsung berangkat sekolah dan seketika Arswendi datang dan menunggu dihalaman depan rumah. mereka langsung berjalan menuju sekolah.
kamu, udah dikasih uang buat bayar buku Ryan?” tanya Arswendi.
sudah dong, aku minta uang dua puluh lima ribu ke ibuku, sahut Ryan
loh, kok dua puluh lima ribu. bukannya harga buku hanya lima belas ribu, kamu bohong ya Ryan? Tanya Arswendi.
iya, tapi jangan khawatir ibuku tidak tahu, jawab Ryan
walaupun ibumu tidak tahu, tapi ada yang tahu, jawab Arswendi
siapa? tanya Ryan ke Arswendi
Allah, dan Allah juga tahu kamu berbohong. memangnya kamu tidak takut yah, dimanapun kamu bersembunyi Allah pasti tahu. Kalau Aku mah gak berani bohong, takut nanti mulut ku dibakar dan tanganku dipotong,  jawab Arswendi sembari menakuti Ryan.
iya deh iya, nanti Aku kembalikan uangnya ke ibuku, sahut Ryan.
Saat sampai dikelas Ryan dan Arswendi meletakkan tas mereka dikursi masing-masing dan keluar menuju ruang guru untuk membayar dan mengambil buku. Setelah melakukan pembayaran bel masukpun berbunyi. Sontak semua siswa berlarian menuju kelas begitupun Ryan dan Arswendi. Mereka pun belajar dengan begitu tenang didalam kelas, bel istirahat dan bel masukpun silih berganti berbunyi dan waktu begitu cepat berlalu, pada akhirnya pertemuan hari ini ditutup dan mereka bersiap-siap untuk pulang. Namun, yang piket hari ini belum bisa pulang karena mereka harus membersihkan dan merapikan kelas kembali dan Ryan termasuk yang piket hari ini. Setelah Ryan dan kawan-kawan  selesai membersihkan kelas baru mereka pulang. 
Sesampainya dirumah Ryan sangat takut dan gugup untuk menemui ibunya, karena ia takut akan dimarahi ibunya. Sembari mendekat dan mendekat Ryan tampak sangat ketakutan dan sesekali ia mundur maju untuk memberitahu ke ibunya. Ibunya tampak heran melihat tingkah laku Ryan dan menanyakan mengapa Ryan tampak seperti orang ketakutan.
bu, Ryan mau minta maaf. Ucap Ryan
Minta maaf untuk apa Ryan, memangnya kenapa? jawab ibu dengan sedikit heran.
Bu, Ryan sudah bohong kepada ibu, sebenarnya harga buku itu lima belas ribu bukan dua puluh lima ribu. Ryan harap ibu tidak marah dan memaafkan Ryan, ucap Ryan sembari menundukkan kepalanya.
sembari tersenyum ibu langsung memegang pundak Ryan, Iya Ryan ibu tidak marah dan ibu memaafkan Ryan. Ibu suka dengan keberanian dan kejujuran Ryan yang sudah berani mengakui kesalahan Ryan.
Ryan pun langsung memberikan uang kembaliannya kepada ibunya namun dengan posisi kepala yang menunduk. 
loh kok uangnya menjadi dua lembar uang lima ribuan sih, tanya ibu kepada Ryan.
Iya bu karena dua lembar uang lima ribuan sama dengan satu lembar uang sepuluh ribuan, jawab Ryan
wah, pintar sekali anak ibu, yah udah kalau begitu sekarang kamu ganti baju dan ingat jangan diulangi lagi yah karena Allah maha melihat dan mengetahui walaupun ibu tidak tahu tapi Allah sangat tahu. Ucap ibu kepada Ryan. 








Senin, 13 April 2020

asal usul kedatangan masyarakat Transbali Belitung

Asal Usul Masyarakat Transbali Belitung
Pada kesempatan yang baik ini, penulis akan menjelaskan kedatangan masyarakat Transbali Belitung, tepatnya di Kecamatan Sijuk. Ketertarikan penulis untuk mengetahui tapak tilas kedatangan masyarakat adalah beredarnya pemberitaan dan penjelasan dari mulut ke mulut yang simpang siur. Ada yang berpendapat bahwa masyarakat Bali adalah diambil dari cerita Bali yang terpotong yang membuat menjadi tidak masuk akal untuk dicerna secara logika. Pada kesempatan yang baik ini penulis menemui seorang narasumber yang bertempat tinggal di daerah Transbali, yaitu ibu Komang Sri seorang ibu rumah tangga. Diteras rumah yang bernuansa persis seperti masyarakat Bali pada umumnya dan nuansa pura disetiap sudut rumah, disitulah perbincangan penulis dengan narasumber. 
Transbali didaerah Belitung ini merupakan masyarakat yang aslinya dari daerah Bali asli, yang harus dipisahkan  dengan keluarganya kala itu demi sebuah program pemerintah. Lebih tepatnya program dimasa Presiden Soeharto, karena kepadatan masyarakat Bali kala itu yang sangat padat. Sehingga pemerintah membuat program untuk melakukan transmigrasi, tepatnya didaerah Belitung. Karena masyarakat Belitung untuk wilayahnya sangatlah luas masih asri dengan hutan dan penduduk tidak begitu padat. Kurang lebih dua ratus orang dipindahkan ke Belitung kala itu, tepatnya pada tahun 1990 menggunakan jalur laut. Tempatnya kala itu sudah disediakan oleh pemerintah, yaitu bersebelahan dengan Desa Pelepak Pute kecamatan Sijuk. selain itu, juga menurut hasil wawancara dengan narasumber bahwa tempat tinggal,  makanan ditanggung oleh pemerintah selama satu bulan dan kebutuhan pangan seperti beras, minyak goreng dan lain-lain ditanggung selama satu tahun oleh pemerintah. Namun, setelah itu baru masyarakat mencari makanan sendiri beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun sikap sosial dari masyarakat sekitar juga tergambarkan dari masyarakat asli Belitung yang biasa disebut dengan desa sebelah yang selalu membantu mereka memberikan janur untuk hari kebesaran mereka, makanan, sayuran dari kebun mereka untuk masyarakat sekitar.
Setelah  lama beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan membuat masyarakat betah hingga saat ini, keadaan yang tergambarkan masyarakat Transbali sama persis dengan yang ada di Bali. Sehingga bagi masyarakat yang melintasi Transbali seringkali berhenti sejenak untuk berfoto, karena nuansa yang ada di memang sama persis, keadaan rumah yang seperti pura dikelilingi dengan tempat persembayangan masyarakat Bali. Selain itu, masyarakat transbali juga sering melakukan ritual adat seperti Nyepi, Ngaben, Galungan, Kuningan,Pengarakan Ogoh-ogoh dan kegiatan lainnya. 
Setelah mengetahui tapak tilas kedatangan masyarakat Transbali ke Belitung, selanjutnya penulis sangat tertarik membahas mengenai Ritual  Ngaben. Ngaben merupak tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat Bali, Ngaben merupakan tradisi upacara pembakaran mayat. Ngaben merupakan ritual yang harus dilakukan oleh masyarakat Bali. Ketertatarikan penulis untuk membahas ngaben adalah pertanyaan penulis mengenai pembakaran mayat apakah memang mayat utuh yang dibakar?. Ternyata penjelasan mengenai ngaben ini adalah mayat yang telah dikuburkan dan diambil kembali tulang belulangnya untuk dimandikan dan disucikan setelah itu baru proses pembakaran yang dilakukan oleh Mewinten, yaitu orang yag telah disucikanuntuk melakukan ritual, tradisi ini dipercaya masyarakat Bali untuk mengantarkan ruh seseorang yang telah meninggal kepada leluhur mereka melalui pengarungan abu setelah dibakar ke sungai. Hanya saja Ngaben harus dilakukan secara massal, oleh sebab itu masyarakat Transbali  jika hanya ada beberapa orang meninggal belum bisa diabenkan kecuali bisa di Abenkan di Bali besar atau Bali induk (Denpasar). Dengan syarat masyarakat Transbali harus mengirimkan abu atau tanah orang yang meninggal ke Bali Induk baru bisa diabenkan.

cerita rakyat Ritual Muang Jong

Cerita Rakyat
Ritual adat Muang Jong
Suku Sawang
Disuatu desa yang sangat dekat dengan pesisir pantai, hiduplah sekelompok  masyarakat yang dikenal dengan nama Suku Sawang. Suku sawang merupakan suku laut yang ada di daerah Belitung, Matapencaharian masyarakat sekitar adalah sebagai nelayan. Daerah tersebut dipimpin oleh ketua adat bernama kik Daud, beliau adalah seorang kepala adat suku Sawang. Beliau juga memiliki cucu bernama Shandy, ia seorang laki-laki yang bertubuh besar tinggi, dengan kulit sawo matang dengan tatapan mata yang sangat tajam. Matahari sangat panas, namun tidak menghalangi Shandy untuk pergi kelaut. Dengan jala dipundaknya ia berangkat menuju laut, pantai adalah sahabatnya setiap hari Ia selalu bertegur sapa dengan pantai. Saat hendak menaiki perahu, terdengar suara seorang wanita yang memanggil Shandy dari belakang. Suaranya sangat terdengar jelas dan lantang, maklum saja suara masyarakat disekitar pantai sangat bergema dan kuat. Saat Shandy menoleh kebelakang ternyata Ibunya memanggil. Beliau mengantarkan sangu (Bekal) yang lupa dibawa oleh Shandy. 
Shandy langsung menghampiri ibunya, Ia sangat bersyukur dan berterima kasih kepada ibunya. Karena jika dipikir bagaimana Ia bisa makan saat ditengah lautan. 
 Mak, terimakasih sudah mengantarkan sangu (Bekal) untuk aku, dak tau lah ape jadi e kalau dak deh sangu (Bekal) bisa jadi kelaparan ditengah laut, ungkap Shandy kepada Ibunya.
“Aoklah Shan, itulah jadi Mak antar sangu (bekal) untuk kau. Gitulah kalau orang tue dengan anak. Sekarang kau pegilah, takut kelak hari lah petang(sore),  kata Ibu Shandy.
 aoklah mak, kalau gitu Shandy pegi dulu.(sembari bersalaman dengan Ibunya).
Shandy langsung menaiki perahunya dengan tiga orang temannya. Dengan keahlian dan kehebatannya ia terlihat sangat ahli dalam mengayu perahu. Tidak ada rasa takut didalam benaknya, ia terus mengayu perahu dan melihat-lihat pemandangan mangrove disekelilingnya. Sesampainya ditempat Shandy langsung berdiri dan melemparkan jala ke laut. Sembari menunggu Ia dan teman-temannya  menikmati sangu (bekal) mereka masing-masing.
Hari semakin gelap Shandy dan teman-temannya langsung menarik jala, benar saja banyak sekali ikan-ikan yang berukuran sedang terperangkap dengan jala mereka. Mereka mengumpulkan ikan-ikan yang terperangkap dijala dan menaruhnya di ember. Setalah itu mereka melemparkan jala lagi kelautan. Sembari menunggu mereka mengambil pancing, dingin malam  tak membuat dia dan teman-temannya putus asa, maklum dia sudah kebal dengan gelap dan dinginnya malam. Sembari duduk dengan meletakkan kakinya kelautan Shandy melemparkan pancingan khusus untuk mencari cumi kelautan. Konon menurut masyarakat yang mengerti dengan lautan, berpendapat bahwa jika posisi bulan tidak terang sangat baik untuk mencari hewan dilautan. Benar saja selang beberapa menit pancingannya disantap oleh cumi besar yang biasanya warga setempat menamainya dengan sebutan Sutong. 
Shandy amat senang karena pancingannya disantap oleh mangsa. Hari semakin larut dan mereka bergegas untuk pulang ke daratan. Sesampainya di dermaga dan ia menepi mereka langsung pulang kerumah masing-masing. Sesampainya di rumah ia mengetuk pintu dan memanggil ibunya. Sontak saja ibunya sedikit terkejut, namun ibunya tahu bahwa itu Shandy. Beliau langsung membuka pintu rumahnya. 
Mak liat la malam ne (nih) aku beruntong (beruntung) benar, banyak dapat ikan e, ucap shandy kepada ibu dengan tawa.
Mata ibunya masih merah karena terbangun dari tidurnya nampak sangat senang.
Syukurlah San, dapat isok (besok) untuk laok(lauk) kite dan mak jual sebagian ke pasar Gantung, sekarang kau mandi mak cium-cium bau badan kau ne bau bakau,sahut ibunya(sembari tertawa).
Biarpun bau bakau mak, tapi aku ade (ada) hasil dari laut, sahut Shandy sembari tertawa dan berjalan menuju kamar mandi.
Tampak matahari mulai menampakkan tubuhnya, masyarakat sekitar beraktivitas dengan dengan kegiatannya masing-masing. Hal serupa juga dilakukan ibu Shandy, beliau menuju kearah pasar Gantung. Setiap perjalanannya ada saja orang yang menyapa, maklum masyarakat sekitar sangat erat dengan kekeluargaan dan tegur sapa. hasil tangkapan Shandy terjual laris di pasar dan sebagiannya di masak oleh ibu Shandy. Ibu Shandy memasak Gangan merupakan makanan khas masyarakat Belitung, yang bahan utamanya dari kunyit. Duduk tersandar diteras rumah dengan makanan ditangannya, Shandy nampak lahap memakannya. Setelah ia menyelesaikan makanannya ia langsung pergi lagi ke laut bersama teman-temannya. Lautan merupakan candu baginya, ia sangat bersahabat kental dengan lautan. 
Tiba-tiba ada tetangga sebelah rumahnya yang menyapa dirinya. Tetangganya memberitahukan bahwa malam ini akan diadakannya rapat dibalai warga, rapat tersebut membahas tentang selamat laut atau dikenal dengan istilah Muang Jong. Setiap tahunnya masyarakat selalu mengadakan selamat laut, untuk mengucapkan rasa syukur kepada nenek moyang mereka. Banyak sekali kegiatan dan ritual yang masih terjadi pada masyarakat suku Sawang. 
Hari selir berganti, malam puncak pelaksanaan untuk selamat lautpun segera akan dilakukan. Masyarakat sangat berantusias dalam kegiatan. Siang itu, nampak hujan lebat masyarakat amat terhalang dengan apa yang akan mereka lakukan. Namun didalam rumah para ibu-ibu terus melakukan pembuatan janur dari kelapa yang digunakan untuk ritual. Setelah beberapa saat hujan redah masyarakat melanjutkan kegiatan. Sebagian warga pergi kehutan mencari bambu dan kayu untuk membuat perahu. Dengan alat yang seadanya masyarakat langsung berangkat menuju hutan. Sesampainya dihutan masyarakat berbondong-bondong mencari bambu dan kayu. Mereka sangat bersuka cita, saat ingin menebang pohon tanpa disadari begitu banyak pasukan semut Kak sebutan masyakarat Belitung untuk semut rangrang. Salah satu warga digigit oleh semut Kak (semut Rangrang) dan terpeleset. Maklum saja, hujan baru saja redah dan cuaca tanah sangatlah licin. Nasib baik masih menyertai dan tidak terjadi apa-apa, kisaran beberapa menit tiba-tiba Shandy terkena duri Nangak (nangak merupakan tanaman berduri seperti tumbuhan salak yang tumbuh dihutan). Kakinya terluka dan duri tertancap didalam kulit kaki Shandy. 
Kepunan (istilah untuk pantangan mengabaikan tawaran makanan/minuman) ape la kau nih Shandy jadi kayak gini, ujar temannya sembari mengeluarkan duri dalam kaki Shandy.
Tadi sebelum pergi kehutan aku ditawari kopi dari ayah, tapi aku tidak mau, sahut Shandy.
Itulah kalau orang tawarin minuman tuh minumlah setidaknya sedikit saja, ujar temannya Shandy. Setelah duri nangak keluar dari kaki Shandy, merekapun langsung melanjutkan pencaharian. Ternyata rombongan bapak-bapak telah selesai mengambil bambu dan kayu. Meraka langsung bergegas kembali rumah mereka. Pembuatan perahu dilakukan dihalaman setiap rumah warga, maklum suku sawang hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga dan rumah mereka juga menempel antara rumah satu dengan rumah lainnya. Saat sesampainya dihalaman rumah, masyarakat langsung melakukan pembuatan perahu yang dihiasi dengan berbagai peralatan. Yang paling penting setiap rumah harus memberikan sesajen untuk nanti perahu diarungkan dilautan, setelah selesai membuat dan menghias perahu masyarakat meletakkan apasaja yang mereka berikan untuk leluhur mereka, seperti makanan, ayam hidup, buah, peralatan dapur beras dan lain-lain. Masyarakat meletakkan mengikat setiap barang yang mereka berikan untuk leluhur. Hal itu merupakan simbol rasa syukur mereka terhadap leluhur mereka. Setelah itu melakukan ritual doa untuk perahu tersebut yang dilakukan oleh kepala adat, setelah memanjatka doa perahu diletakkan pada bangunan yang tinggi. 
Keesokan harinya masyarakat masih berlanjut membuat peralatan untuk ritual dan mencari bunga padi, dan salah satu orang membuat ancak (tempat yang terbuat dari bambu) bentuknya seperti atap rumah yang dihiasi dengan daun kelapa.  Tidak ketinggalam mansyarakat juga berbondong mendirikan dan menancapkan Jitun (sejenis pohon pinang). Menuju puncaknya masyarakat menyiapkan peralatan seperti gendang, gong dan kemenyan untuk ritual. Masyarakat bekerjasama membersihkan sampah-sampah disekitar. Hari semakin gelap, masyarakat memulai ritual adat sebagai pembuka dilakukan doa, yang diwakili oleh beberapa orang yang duduk bersebelah dengan kepala adat. Tidak semuanya hanya beberapa orang saja, itupun orang yang memang mengerti adat istiadat suku sawang. Ritual dibuka dengan nyanyian yang memang diperuntukkan memanggil leluhur mereka, aroma-aroma kemenyan sangat kuat. Setelah kepala adat dirasuki oleh leluhur salah satu orang membuka salam dan mengucapkan rasa syukur kepada leluhur. Kepala kepala adat harus ditutupi dengan kain putih setelah berinteraksi dengan dengan leluhur, sebagai tanda terimanya oleh leluhur kepala adat yang sudah tidak muda lagi langsung berdiri berjalan kedepan dan berlenggak-lenggok menggerakkan suatu gerakan yang diiringi dengan lantunan gendang dengan amat gagah dan berani. Salah satu orang meniupkan asap kemenyan kearah kepala adat sembari bernyanyi.
Setalah itu dilanjutkan dengan gerakan muda-mudinya, yang terdiri dari tujuh laki-laki yang berikatkan kain putih di kepala, posisi mata tertutup dan kain batik yang diikat dipinggang. Mereka melakukan gerak-gerakan seperti orang kesurupan. Pastinya harus ada penjaga disekitar mereka, konon yang menggerakkan badan mereka adalah leluhur. Gerakan tersebut hanya diperuntukkan bagi keturunan suku sawang. Gerakan terus dilakukan sampai satu persatu orang pingsan, cara membangunkannya memiliki cara dan tidak sembarangan, membangunkan orang yang pingsan memiliki lagu tersendiri setiap tarian atau gerakan beda cara membangunkannya. Uniknya dalam proses membangunkan ada istilah tidak mau dari leluhur. Sehingga jika musik satu tidak mau maka diganti dengan musik lainnya, misalnya membangunkan dengan cara gendang Raje dan Nek Unai. Itulah sebutan untuk musik yang digunakan dan setiap pukulan gendang sangat berbeda. Setalah mereka sadar kembali, selanjutnya mereka akan dipukul-pukul dengan  bunga padi.
Kegiatan masih berlanjut selanjutnya ialah kegiatan Junjung Ancak, yang mana ini dilakukan perorangan dengan gerakan-gerakan. Setiap orang harus menggerakkan dan membawa ancak yang berbentuk seperti atap rumah. Bergerak maju mundur berjalan kedepan dan belakang sembari menundukkan dan menenggakkan kepala. Orang yang melakukan Junjung Ancak sangat laju menggerakkan badannya. Melakukan Junjung Ancak harus dilakukan sebanyak tujuh kali, dengan orang yang berbeda. Konon yang terakhir saat bergerak itu, bukan dia menggerakkan badannya tetapi raja laut. Konon orang yang melakukan Junjung Ancak ini Ruhnya berada dilautan dan orang yang melakukan Junjung Ancak ini berada berjalan dilautan bertemu siapa saja dilautan. Mereka bertegur sapa dengan penduduk lautan dan merasa kebebasan dilautan. Bahkan para nelayan, hanya saja para nelayan tidak bisa melihat keberadaan mereka. Namun, orang yang melakukan Junjung Ancak bisa melihat para nelayan. Setiap doa selalu diberikan agar orang-orang yang berada dilautan selalu diberikan keselamatan dan perlindungan oleh leluhur. Oleh sebab itu, orang yang melakukan Junjung Ancak harus menunggu sampai dia pingsan atau tidak sadarkan diri. 
Gerakan ketujuh orang yang melakukan Junjung Ancak gerakannya sangat liar, dan berbeda. Orang ketujuh ini ingin bergerak-gerak diatas pundak masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat harus menyiapkan badan mereka untuk diinjak oleh orang ketujuh semabari bergerak-gerak. Setelah semuanya tak sadarkan diri kembali dengan ritual membangunkan. Setelah setiap orang tersadar selanjutnya kegiatan naik Jitun ( sejenis pohon pinang) kegiatan naik Jitun ini harus dilakukan sendiri. konon katanya ada tujuh bidadari yang  berkeliling mengitari Jitun tersebut. Dengan mata tertutup orang yang khusus naik Jitun amat lincah dan cepat saat menaiki Jitun. Dengan rombongan penari dibawanya mengelilingi setiap putaran Jitun. Bidadari-bidadari tersebut nampak bahagia dan menikmati lantunan musik yang dipersembahkan khusus untuk mereka. sang bidadari nampak membantu memegangi orang tersebut agar tidak terjatuh.  Orang yang menaikki Jitun tersebut bergerak lincah dan berdiri dipuncak Jitun sembari memutar-mutarkan badannya. Dengan bantuan bidadari-bidadari tersebut tak nampak orang yang melakukan atraksi tersebut seperti terjatuh. Padahal ia memutarkan badannya tanpa alat bantu sedikitpun. Masyarakat bersemangat mengitari Jitun dan menyanyikan lagu yang khusus untuk naik Jitun. Setelah melakuakan atraksi barulah orang tersebut sadar dan dibantu oleh masyarakat yang lainnya. 
Lantunan gendang terus berlanjut sampai pagi yaitu sampai ritual mengarungkan kapal kelautan. Walaupun tidak beristirahat masyarakat nampak asyik bergerak menikmati pukulan gendang yang dimainkan. Masyarakat menghargai dan menghormati, sampai-sampai mereka rela tidak mengistirahatkan mata mereka. Pagi masih berlanjut, dengan bola mata yang membengkak membuat masyarakat tetap menunjukan semangat mereka. Selanjutnya membawa Junjung Ancak kesetiap pekarangan rumah masyarakat suku sawang. Setiap rumah harus melemparkan beras-beras kearah Junjung Ancak. Junjung Ancak terus dilakukan sampai rumah terakhir dengan diiringi musik dan pukulan gendang. Beras tersebut merupakan makanan untuk leluhur dan leluhur sangat menikmati dan begitu lahap memakannya. Sampai-sampai ayam ternak wargapun tak berani untuk mengganggu atau mematoknya. Leluhur tanpa tersenyum bahagia melihat keturunannya tak melupakan mereka. Setelah melakukan Junjung Ancak yaitu melakukan pengarakkan Perahu mengelilingi pasar Gantung dan menuju Pantai Mudong. Sang leluhur tampak bahagia menunggangi perahu tersebut dan dibawa berkeliling kampung sebelum berpamitan kelautan. Masyarakat nampak berbahagia bercanda gurau dan berteriak melepaskan segala penat. 
Setelah sesampainya dilautan cuaca nampak cerah langit biru terang dan awan menggumpal putih, ritual masing dilakukan. Membangun kebahagian tersebut masyarakat melakukan gerakan memutar perahu dengan musik yang membangkitkan semangat untuk bergerak. Leluhur tampak bahagia dan tertawa terbahak-bahak menyaksikan keturunannya. Selanjutnya adalah interaksi antara kepala adat dan leluhur  berjalan ketepi pantai sembari menggerakkan badan dengan kepala yang ditutupi kain putih dan diiringi pukulan gendang. Dengan berlinang air mata kepala adat berinteraksi dengan leluhur dan mengucapkan atas segala rasa syukur yang telah diberikan. Masyarakat yang menyaksikanpun juga ikut menangis dan bersujud kearah lautan. Setelah itu, mengarungkan kapal kelautan masyarakat berbondong menghanyutkan kapal dan berjalan menuju kearah lautan sampai lautan setengah pinggang orang dewasa barulah kapal diarungkan. Pukulan gendang tak berhenti sampai kapal nampak jauh. 
Selanjutnya masyarakat menuju ke daratan sesaat setelah sampai ditepi lautan mereka tampak berlari-lari sembari tertawa lepas dengan membawa air laut lalu disiramkan kepada orang. Ini memang sudah menjadi keharusan dan tidak boleh marah saat disiram dengan air. Itu merupakan tanda kebahagian masyarakat. Setelah mengarungkan kapal masyarakat langsung bergegas pulang. Masyarakat yang tidak tidurpun langsung melepas penat. Begitupun Shandy ia nampak sangat lelah sekali, ia langsung terbaring dirumahnya dan tertidur nampak pulas sekali. Dan ibunya nampak terus melakukan kegiatan, ibu Shandy membantu ayahnya membuat jala dibelakang rumahnya. Hari nampak begitu gelap, Ibunyapun langsung bergegas menggambil jemuran ikan asin dan kempalng yang Ia buat. Saat sedang mengambil ikan asin hujan tiba-tiba turun dengan begitu deras. Ia langsung berlari dan membawa ikan asin dan kemplangnya kedalam rumah pembuatan jala berlangsung di dalam rumah. Hari semakin malam Shandy yang nampak lelah belum juga beranjak dari tempat tidurnya ibunyapun langsung membangunkannya. 
Malam itu kepala adat yaitu Kik Daud tampak gelisah dalam tidurnya, ternyata leluhur bertamu didalam mimpinya dan berkata sangat kecewa dan kapalpun dikembalikannya, leluhur sangat kecewa saat ia sampainya di istananya ternyata ada satu alat yang masyarakat lupa. Yaitu korek api, dalam mimpinya leluhur sangat kecewa dan mengembalikan kapal tersebut.
Bagaimana bisa ada satu benda yang terlupakan, seharusnya lebih hati-hati lagi dalam mempersiapkan sesuatu. Bagaimana kalian bisa masak jika tidak api !, ujar kemarahan leluhur didalam mimpi Kik Daud. Beliau terbangun dari tidurnya beliau langsung bergegas mencuci muka. Sembari menunggu pagi beliau mempersiapkan apa yang harus dilakukan, hari menjelang pagi beliau menyampaikan kepada setiap masyarakat suku sawang. Untuk kembali kepantai karena adanya penolakan dari leluhur karena ada benda yang belum terpenuhi dan kita harus kembali ketempat. Sesampainya pantai Mudong, tampak perahu yang berada ditepi pantai, beliau meletakkan korek api dikapal tersebut dan meminta maaf kepada leluhur dan permintaan maafnya diterima oleh leluhur.

Amanat dari cerita ini adalah Kita harus selalu bersyukur atas apa yang didapatkan dan selalu bekerja sama dalam melakukan segala hal. Karena sejatinya setiap manusia adalah mahkluk sosial yang membutuhkan satu dengan lainnya. 
cerita ini sebenarnya adalah kepercayaan masyarakat sekitar khususnya masyarakat suku Sawang.  Cerita diatas merupakan cerita yang dibuat oleh penulis untuk hiburan semata, namun perihal keberadaan masyarakat suku Sawang memang benar adanya. Masyarakat suku Sawang berada di kecamatan Gantung, Belitung Timur.