Selasa, 28 April 2020

cerita Persahabatan Arswendi dan Ryan

Pagi ini tampak cerah, kilauan mentari mengecup pipi siapapun yang melintasi jalan. Hirau birau jalanan dipenuhi sepeda motor karena pagi hari memang banyak sekali orang yang berkegiatan diluar rumah. Arswendi dan Ryan berjalan ditepi-tepi jalan dengan berhati-hati dengan seragam putih merah yang lengkap dengan penuh suka cita mereka berjalan menuju sekolah. Dengan saling bercanda dan tertawa mereka begitu asyik berjalan bersama. 
Seketika akan sampai terlihat pak Sopian yang merupakan guru dari sekolahan tersebut sedang berdiri didepan pintu gerbang sekolah sembari menunggu siswa-siswi yang datang. Saat Arswendi dan Ryan mendekat, mereka menegur pak Sopian dan mencium tangan Pak Sopian. Setelah itu, mereka langsung menuju kelas mereka. Terlihat banyak sekali siswa-siswi yang sednag asyik bermain dan melakukan piket umum. Seketika bel masuk berbunyi, Kriiing Kriiing Kriiiing, siswa siswi langsung berlari memasuki kelas dan ada juga kelas yang tampak baris-berbaris didepan kelas. 
tuk tuk tuk, terdengar suara sepatu yang seketika mendekat menuju kelas Arswendi dan Ryan. iya, benar saja seorang guru dengan senyum ramah seketika memasuki kelas, dengan meletakkan bukunya dimeja. Guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa sebelum belajar. Dengan begitu semangat dan riang siswa siswi mengeluarkan suara-suara mereka untuk membaca doa. Seketika sang guru menjelaskan materi yang akan dipelajari. Diakhir pembelajaran sang guru menyampaikan kepada siswa-siswi mengenai buku pembelajaran. 
”Ibu, mau menyampaikan kepada kalian. untuk mempermudah kalian belajar dirumah. ibu mau mengingatkan kalian untuk, membeli buku ini ( sembari menunjukan kepada siswa-siswi) harga buku ini lima belas ribu rupiah dan untuk pembayarannya boleh lusa”, kata Ibu Guru.
Lusa itu kapan bu?, tanya Arswendi.
 Lusa itu adalah hari sesudah besok atau hari yang ketiga sesudah hari ini, jika besok hari rabu maka setelah rabu hari apa, Jawab ibu Guru.
Sontak semua siswa menjawab dengan serentak,  hari kamis bu.
Hebat sekali anak ibu, jadi sekarang sudah tahukan jika teman atau orang tua kalian bilang lusa, tanya ibu guru. 
Setelah menjelaskan kepada siswa gurupun langung menutup pembelajaran hari ini, karena ada rapat jadi siswa-siswi dipulangkan lebih awal. Siswa-siswipun langsung pulang kerumah masing-masing dan ada juga yang sedang menunggu orang tuanya. Saat sampai dirumah Ryan memanggil Ibunya dan mencium tangan ibunya, Sembari meletakkan tasnya dimeja Ryan menyampaikan kepada ibunya, bahwa ia diminta guru untuk membeli buku. 
Bu, kami diminta ibu guru untuk membeli buku, yang harganya dua puluh lima ribu rupiah, ucap Ryan.
Buku apa Yan, tanya ibunya.
Buku pembelajaran bu, katanya terakhir pembeliannya lusa bu, ucap Ryan
Baiklah, besok ibu berikan uangnya. sekarang kamu ganti baju setelah itu makan. Ucap ibu.
Ryan berjalan menuju kamarnya dengan membawa semua perlengkapan sekolahnya kekamar. Setelah berganti pakaian Ryan menikmati makanan masakan ibunya, setelah akan selesai makan Arswendi pun datang mengajak Ryan untuk bermain layang-layangan. Namun, sebelum berangkat Ryan harus mencuci piring terlebih dahulu dan meminta izin kepada ibunya. Setelah selesai mencuci piring Ryan merayu ibunya untuk meminta izin pergi bermain. 
bu,, oh bu( sembari mengosok pundak ibunya dengan muka yang memelas). Dengan senyum menerka ibunya berkata,  Pasti mau mainkan, ( sembari mengolok Ryan). Iya, bu. bolehkan bu, sahut Ryan. sontak ibu menjawab, boleh , tapi ingat jangan pulang terlalu malam, sebelum ashar sudah harus pulang. Kalau sebelum ashar belum pulang,  tiga hari tidak boleh bermain keluar rumah ya. Sembari mencium tangan ibunya, Ryan langsung pergi bermain bersama Arswendi. 
cuaca teramat panas, sehingga keringat membasahi baju mereka. Namun hal tersebut tak mereka hiraukan karena kegembiraan yang mereka lakukan. Dengan sorak-sorak lantang, mereka teramat gembira terlebih layang-layang mereka melayang teramat tinggi diudara. Asyik-asyik mereka menarik layangan tanpa sadar layang Arswendi tersangkut dipohon jengkol yang berada disekitar lapangan. Ia langsung mengejar layang-layang tersebut, dia berpikir untuk menaiki pohon jengkol tersebut.  Namun, saat ingin menaiki pohon tersebut Ia digigit oleh semut rangrang. Sontak ia kaget dan menepas-nepas semut rangrang yang menempel di bajunya. Arswendi berinisiatif dengan tidak mengambil layangan tersebut, terlebih lagi pohon yang amat besar dan tinggi. Sehingga mereka berinisiatif untuk pulang kerumah masing-masing. Terlebih lagi hari sudah nampak sore dan matahari tampak berpindah tempat.
Sesampainya dirumah ibu Ryan sangat kaget melihat celana dan baju Ryan yang kotor dan terlebih lagi celana Ryan yang dipenuhi dengan rumput jarum. Ibupun meminta Ryan untuk membersihkan rumput jarum yang menempel di celana Ryan. Ryan langsung duduk di dekat pintu dapur sembari membuang satu-satu rumput jarum yang menempel di celananya. setelah selesai Ryan langsung mandi karena tubuhnya sudah terasa gatal-gatal karena keringat yang menempel dibadannya. 
Hari semakin malam, mataharipun berpamitan terdengar suara kumandang adzan magrib. Sontak Ryan berganti pakaian dengan cepat dan mengikuti ayahnya ke masjid. Ryan dan ayahnya melakukan shalat berjamaah dimasjid. Haripun semakin cepat berlalu dan waktu cepat berjalan tak disadari sudah memasuki waktu pagi kembali. Dengan amat rapi Ryan mengunakan seragam sekolahnya , sebelum berangkat sekolah tak lupa ia berpamitan dengan kedua orang tuanya dan tak lupa juga ia meminta uang untuk membeli buku. Ibunya memberikan uang tiga puluh ribu yaitu lima ribu untuk uang Ryan jajan disekolah. Sembari menerima uang dan bersalaman Ryan langsung berangkat sekolah dan seketika Arswendi datang dan menunggu dihalaman depan rumah. mereka langsung berjalan menuju sekolah.
kamu, udah dikasih uang buat bayar buku Ryan?” tanya Arswendi.
sudah dong, aku minta uang dua puluh lima ribu ke ibuku, sahut Ryan
loh, kok dua puluh lima ribu. bukannya harga buku hanya lima belas ribu, kamu bohong ya Ryan? Tanya Arswendi.
iya, tapi jangan khawatir ibuku tidak tahu, jawab Ryan
walaupun ibumu tidak tahu, tapi ada yang tahu, jawab Arswendi
siapa? tanya Ryan ke Arswendi
Allah, dan Allah juga tahu kamu berbohong. memangnya kamu tidak takut yah, dimanapun kamu bersembunyi Allah pasti tahu. Kalau Aku mah gak berani bohong, takut nanti mulut ku dibakar dan tanganku dipotong,  jawab Arswendi sembari menakuti Ryan.
iya deh iya, nanti Aku kembalikan uangnya ke ibuku, sahut Ryan.
Saat sampai dikelas Ryan dan Arswendi meletakkan tas mereka dikursi masing-masing dan keluar menuju ruang guru untuk membayar dan mengambil buku. Setelah melakukan pembayaran bel masukpun berbunyi. Sontak semua siswa berlarian menuju kelas begitupun Ryan dan Arswendi. Mereka pun belajar dengan begitu tenang didalam kelas, bel istirahat dan bel masukpun silih berganti berbunyi dan waktu begitu cepat berlalu, pada akhirnya pertemuan hari ini ditutup dan mereka bersiap-siap untuk pulang. Namun, yang piket hari ini belum bisa pulang karena mereka harus membersihkan dan merapikan kelas kembali dan Ryan termasuk yang piket hari ini. Setelah Ryan dan kawan-kawan  selesai membersihkan kelas baru mereka pulang. 
Sesampainya dirumah Ryan sangat takut dan gugup untuk menemui ibunya, karena ia takut akan dimarahi ibunya. Sembari mendekat dan mendekat Ryan tampak sangat ketakutan dan sesekali ia mundur maju untuk memberitahu ke ibunya. Ibunya tampak heran melihat tingkah laku Ryan dan menanyakan mengapa Ryan tampak seperti orang ketakutan.
bu, Ryan mau minta maaf. Ucap Ryan
Minta maaf untuk apa Ryan, memangnya kenapa? jawab ibu dengan sedikit heran.
Bu, Ryan sudah bohong kepada ibu, sebenarnya harga buku itu lima belas ribu bukan dua puluh lima ribu. Ryan harap ibu tidak marah dan memaafkan Ryan, ucap Ryan sembari menundukkan kepalanya.
sembari tersenyum ibu langsung memegang pundak Ryan, Iya Ryan ibu tidak marah dan ibu memaafkan Ryan. Ibu suka dengan keberanian dan kejujuran Ryan yang sudah berani mengakui kesalahan Ryan.
Ryan pun langsung memberikan uang kembaliannya kepada ibunya namun dengan posisi kepala yang menunduk. 
loh kok uangnya menjadi dua lembar uang lima ribuan sih, tanya ibu kepada Ryan.
Iya bu karena dua lembar uang lima ribuan sama dengan satu lembar uang sepuluh ribuan, jawab Ryan
wah, pintar sekali anak ibu, yah udah kalau begitu sekarang kamu ganti baju dan ingat jangan diulangi lagi yah karena Allah maha melihat dan mengetahui walaupun ibu tidak tahu tapi Allah sangat tahu. Ucap ibu kepada Ryan. 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar